Di usia 14 tahun, Meisya siswi kelas 1 SMP di sebuah SLB menjalani hari-harinya dengan keterbatasan fisik akibat penyakit tulang rapuh yang dideritanya sejak bayi. Saat berusia satu tahun, kakinya patah ketika belajar berjalan. Sejak itu, Meisya tidak lagi bisa berjalan. Sebenarnya, dulu ia sempat direncanakan untuk berobat ke Bandung, namun kondisi ekonomi keluarga membuat pengobatan itu tak pernah terwujud. Kini, menurut keterangan dokter, kemungkinan Meisya untuk bisa berjalan kembali sangat kecil. Ia pun masih kerap merasakan nyeri ketika tulangnya tersenggol atau mengalami cedera ringan.
Sejak duduk di bangku SD umum, Meisya harus menghadapi kenyataan pahit: ia kerap menjadi korban perundungan. Tidak ada teman yang mau menemaninya bermain. Ia hanya bisa memandangi teman-temannya berlari dan tertawa dari kejauhan. Luka itu bukan hanya pada tulangnya, tetapi juga pada hatinya. Bahkan, dalam keputusasaan, Meisya pernah berkata ingin menyerah pada hidup karena merasa menjadi beban bagi sang ibu.
Tiga bulan lalu, ayah Meisya yang bekerja sebagai kuli bangunan meninggal dunia. Sejak saat itu, beban keluarga sepenuhnya bertumpu pada pundak kecil Meisya dan ibunya yang juga tengah berjuang melawan penyakit batu ginjal. BPJS mereka menunggak Rp1.500.000 sehingga sang ibu tidak dapat berobat. Selain itu, keluarga ini juga memiliki utang sebesar Rp5.000.000 untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi serba terbatas, Meisya tetap memilih bangkit.
Untuk membantu ibunya, Meisya berjualan karangan bunga hasil belajar dari YouTube. Ia menjualnya seharga Rp15.000 per tangkai di sekolah, di depan minimarket, dan berkeliling sekitar rumah. Setiap hari, ia digendong oleh ibunya saat berjualan. Ongkos pulang-pergi sekolahnya mencapai Rp80.000; jika tak ada biaya, sang ibu kembali menggendongnya. Pernah dalam sehari ia hanya mampu menjual dua bunga, mendapatkan Rp30.000 untuk menghidupi ibu dan adiknya. Jika tak ada pemasukan, kakek dan neneknya membantu sekadar memberi makan.
Di balik segala keterbatasan itu, Meisya menyimpan mimpi besar: ia ingin memiliki warung kecil di rumah agar ibunya tak perlu lagi menggendongnya ke mana-mana. Ia ingin menyekolahkan adiknya dan suatu hari menjadi dokter agar bisa membantu orang-orang dengan kondisi seperti dirinya.
Mari kita hadirkan harapan untuk Meisya. Ulurkan tangan terbaikmu, lunasi tunggakan kesehatannya, bantu pengobatan ibunya, dan wujudkan impian kecilnya untuk bertahan dan bangkit. jadikan Ramadhan ini lebih bermakna dengan berbagi untuk Meisya.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
