Di tengah keterbatasan fisiknya sebagai penyandang tunadaksa sejak balita, Pak Ahmad terus berjuang tanpa mengeluh demi menafkahi keluarga. Setiap hari, beliau harus berjalan merangkak dengan tumpuan kaki kanan dan tangannya—hingga celananya kerap bolong tergesek tanah—demi memenuhi panggilan jasa servis elektronik seperti TV, radio, atau set-top box. Perjalanan menuju rumah pelanggan kerap menyiksa batin dan fisiknya; rasa engap di dada akibat riwayat bronkitis kerap menyerang saat beliau terpaksa berjalan jauh atau melewati jalanan menanjak. Duka kian terasa saat pesanan sepi hingga tiga bulan berturut-turut, membuat penghasilan bulanan yang kadang hanya 300 ribu rupiah tak cukup bahkan sekadar untuk membeli beras.

Ujian hidup Pak Ahmad tak berhenti pada sepinya panggilan servis. Beliau sering kali harus menanggung modal pembelian komponen elektronik terlebih dahulu, atau terpaksa menyimpan barang pelanggan berbulan-bulan karena ketiadaan modal. Tak jarang peluh dan kerja kerasnya seharian penuh hanya dibayar dengan janji utang atau sebatas ucapan terima kasih (cap nuhun) yang totalnya kini mencapai satu juta rupiah. Di balik bahaya pekerjaannya yang berisiko tinggi—mulai dari tersengat listrik 220 volt hingga ledakan mesin—Pak Ahmad dan sang istri, yang juga seorang tunadaksa, rela bertahan hidup hanya dengan makan nasi garam atau berpuasa demi memastikan kedua anak mereka yang masih SMP dan SD tidak kelaparan.

Perjuangan tanpa henti ini dilakukan Pak Ahmad semata-mata demi cita-cita masa depan kedua buah hatinya. Beliau memendam rasa bangga yang mendalam ketika anak pertamanya berhasil menjadi anggota paskibra—mewujudkan impian masa kecil Pak Ahmad yang dulu terhalang kondisi fisik—meski beliau harus mengelus dada karena belum mampu membelikan seragam lengkapnya. Harapan terbesarnya sangat sederhana namun mulia: ingin terus diberi kesehatan agar bisa mendampingi dan membesarkan anak-anaknya hingga kelak berhasil menggapai cita-cita mereka menjadi polisi dan polwan.

Kini, di usianya yang tak lagi muda dengan kondisi fisik yang terus dimakan usia, Pak Ahmad sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk bisa bernapas lebih lega. Bantuan modal usaha tempat servis yang layak, pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, serta perlengkapan sekolah anak-anaknya akan menjadi penopang besar bagi perjuangan keluarga gigih ini. Mari bersamai langkah tulus Pak Ahmad agar beliau tidak lagi harus merangkak sendirian menahan beban hidup yang begitu berat.
Mari Alirkan Kebaikan! Sisihkan Rezeki Terbaikmu Hari Ini untuk Bantu Modal Usaha Servis Elektronik, Pemenuhan Kebutuhan Hidup, serta Biaya Pendidikan Anak-Anak Pak Ahmad! Klik BANTU SEKARANG!
- Klik “DONASI SEKARANG” :
- Masukkan nominal donasinya :
- Pilih metode pembayaran :
- Dapatkan laporan via e-mail :

*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com