Tangan-Kaki Menekuk, Penjahit Disabilitas Ini Berjuang Hidupi Keluarga
Tangan-Kaki Menekuk, Penjahit Disabilitas Ini Berjuang Hidupi Keluarga

Tangan-Kaki Menekuk, Penjahit Disabilitas Ini Berjuang Hidupi Keluarga

Rp 385.000
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
16
Tercapai
1%
Sisa waktu
Berakhir
Galang dana sudah berakhir

Diperbarui 26 October 2026, 09:00 WIB

Penggalang Dana

Ayo Kita Peduli
Lembaga resmi terverifikasi
Menggalang dana untuk
THE POWER OF KINDNESS

Cerita

27 August 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Di sebuah sudut kampung, ada seorang pria 35 tahun yang setiap hari berjuang melawan batas yang tak pernah ia pilih sejak lahir. Namanya Pak Cucu. Sebagian orang memanggilnya Pak Cunong. Ia adalah seorang penjahit disabilitas dengan tangan dan kaki yang tak memiliki bentuk dan fungsi selayaknya orang kebanyakan, langkah yang selalu tertatih, dan tubuh yang harus bersandar pada tembok hanya untuk bisa berdiri.IMG_0072.JPG

Sejak lahir, keterbatasan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tak bisa diobati. Tak bisa dipulihkan. Untuk berjalan, ia harus berhati-hati. Tongkatnya pernah tersandung batu hingga ia jatuh dan terluka. Untuk berdiri saja ia harus mencari sandaran. Untuk minum pun, air sering tumpah karena tangannya tak mampu menggenggam dengan sempurna. Untuk ke kamar kecil, ia membutuhkan kursi kecil sebagai penopang.


Namun di balik tubuh yang rapuh itu, ada hati yang sangat kuat.

Pak Cucu adalah tulang punggung keluarga. Ia tinggal bersama ayahnya yang masih dalam masa pemulihan setelah operasi lambung bocor, istrinya, dan seorang anak berusia 2 tahun yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan. Ibunya telah meninggal tiga tahun lalu sejak itu, tak ada lagi tempatnya bersandar untuk sekadar bercerita saat lelah dan sedih menghampiri.

Sudah tiga tahun ini Pak Cucu bekerja sebagai penjahit. Ia bisa menjahit tas dan mempermak pakaian, tapi belum mampu membuat baju sendiri. Penghasilannya tak menentu. Kadang hanya 15 ribu rupiah. Paling besar 60 ribu. Bahkan pernah seminggu penuh tanpa satu pun orderan.IMG_0200.JPG

Jika tak ada pesanan, ia berkeliling menawarkan jasanya dari rumah ke rumah. Di bawah terik matahari, bahkan saat hujan mengguyur tubuhnya Pak Cucu terus berjuang. Dalam keadaan lapar, ia tetap memaksakan diri berjalan. Jika tak ada uang untuk makan, ia hanya makan dengan nasi dan garam. Atau bahkan tak makan sama sekali, hanya meminum air mineral.IMG_0227.JPG

Pun susu untuk anaknya jika hampir habis, Pak Cucu tak sanggup membeli lagi. Kebutuhan keluarga sering tak terpenuhi. Tagihan listrik pun pernah terpaksa ia bayar dengan meminjam uang saudara. Jika benar-benar tak ada uang, ayahnya ikut membantu dengan menjual beras yang ada di rumah.

Bayangkan perasaan Pak Cucu sebagai ayah yang pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Pak Cucu sering meminta maaf kepada istrinya karena belum bisa memberi nafkah yang cukup. Dan istrinya hanya tersenyum, menerima dengan sabar.

Tak hanya soal ekonomi. Luka batin pun sering ia rasakan. Saat berkeliling menawarkan jasa, ada yang menghina, “Dengan kondisi seperti itu, memangnya bisa menjahit?” Pernah juga anak kecil melemparinya dengan batu. Ia pernah bertanya dalam hati, “Kenapa aku dilahirkan seperti ini?”

Ia sedih. Ia lelah. Ia pernah menangis mengingat ibunya karena tak ada lagi tempatnya mengadu. Namun hinaan tak membuatnya berhenti. Justru itu yang ia jadikan bahan bakar untuk terus bangkit. Di tengah keterbatasannya, Pak Cucu masih menyemangati sesama penyandang disabilitas agar tidak menyerah. Jika ada rezeki lebih, walau sedikit, ia kadang berbagi kepada yang lebih membutuhkan.

Dulu, setelah mengikuti pelatihan menjahit khusus disabilitas, ia sempat memiliki mesin jahit sebagai modal. Tapi keadaan memaksa menjual mesin itu demi kebutuhan keluarga. Tahun 2023, ada yang kembali membantunya dengan mesin jahit agar ia bisa bekerja lagi.

Kini ia masih bekerja untuk usaha orang lain. Ia hanya dibayar dari setiap pesanan yang datang. Ia bermimpi memiliki usaha jahit sendiri agar penghasilannya lebih stabil, agar tak lagi bergantung pada order orang lain, agar anaknya tak lagi kekurangan susu, agar ia tak perlu meminjam uang hanya untuk membayar listrik.

Hari ini, Pak Cucu masih berjuang. Dengan kaki yang sakit saat berjalan jauh. Dengan tangan yang terbatas geraknya. Dengan hati yang kadang hancur, tapi tak pernah menyerah.

Kini, kita yang membaca kisahnya punya pilihan. Membiarkannya terus berjuang sendirian... atau menjadi bagian dari harapan baru untuk Pak Cucu dan keluarganya.

Uluran tangan Sobat Berdampak bisa membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, memastikan susu untuk anaknya tetap ada, membantu biaya listrik dan makan sehari-hari, serta menjadi langkah awal agar Pak Cucu bisa memiliki usaha jahit sendiri yang lebih mandiri.


Kalian dapat berpartisipasi dalam gerakan ini dengan menyebarkan campaign dan berdonasi dengan cara:


Klik “DONASI SEKARANG” :

Masukkan nominal donasinya :

Pilih metode pembayaran :

Dapatkan laporan via e-mail :e5885788-fe8c-442d-98ef-313af371a94f.jpeg*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.

*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.

*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.482c259b-ddae-45c5-8e22-d4105f771a97.jpegBeberapa informasi:

*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan. 

Contact and More Information:

Instagram: @ayokita.peduli

WhatsApp: +62 821-2908-8174

Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.

Kabar Terbaru

Lihat semua
Ayo Kita Peduli
20 October 2026

THE POWER OF KINDNESS

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Hallo, Sobat Berdampak!


Setiap kebaikan yang diberikan, sekecil apa pun, selalu memiliki arti bagi mereka yang membutuhkan. Melalui program The Power Of Kindness, Ayo Kita Peduli bersama Sobat Berdampak terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan kehidupan.


Pada kesempatan ini, bantuan telah disalurkan kepada penerima manfaat berupa santunan tunai, kebutuhan pokok, dan tambahan modal usaha sebagai bentuk dukungan dan kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.


Dek Udi: Seorang anak 6 tahun dengan kondisi mulut penuh sariawan dan keadaan ekonomi keluarga yang penuh dengan keterbatasan, membantu orang tuanya dengan bekerja sebagai penjual ATK di jembatan penyebrangan. Bantuan yang diberikan berupa santunan tunai, kebutuhan bahan pokok, kebutuhan penunjang pendidikan, tambahan modal usaha, biaya kontrakan, dan biaya pendidikan.


Abah Mamat: Seorang lansia penjual buah yang berjuang demi kesehatan cucu dan anaknya yang depresi. Bantuna yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai, kebutuhan bahan pokok, dan tambahan modal usaha.


Dek Seana: seorang balita yang lahir dengan kondisi organ di luar perut. Bantuan yang disalurkan berupa santunan kesehatan.


Pak Sani: Seorang kakak dengan kondisi tunawicara yang bekerja sebagai driver ojek online. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai dan kebutuhan bahan pokok.


Abah Ade: Lansia pejuang nafkah yang bekerja sebagai penjual kaligrafi, yang mengharuskannya memikul beban 30kg setiap hari. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai.


Abah Isep: Lansia tunarungu dan tunawicara yang menjadi pejuang nafkah dengan berjualan kopi walaupun kondisinya sudah sangat ringkih. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai dan kebutuhan bahan pokok.

Kebaikan yang Sobat Berdampak titipkan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan, tetapi juga menjadi penguat semangat, harapan, dan kebahagiaan bagi para penerima manfaat.


Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini. Semoga setiap langkah yang kita lakukan bersama dapat terus menghadirkan manfaat dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.


Karena pada akhirnya, kebaikan yang dibagikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menjadi keberkahan.


Salam hangat,

Ayo Kita Peduli

Doa & Donasi

Lihat semua
Anonim
Rp 20.000
26 September 2026, 09:23

in syaa Allah bermanfaat untuk yg bersangkutan. in syaa Allah Allah balas kami dengan bertambah banyak rezeki kami aamiin ya rabbal alamin