Di usia 66 tahun, saat sebagian orang menikmati hari tua bersama keluarga, Opa Saleh justru harus bertahan hidup seorang diri dengan segala keterbatasan yang ia miliki.
Opa Saleh adalah lansia dengan disabilitas mental yang selama ini menggantungkan hidup dari memulung. Setiap hari ia berjalan sendiri, mengumpulkan barang bekas demi sekadar makan. Tak ada yang benar-benar ia miliki, selain semangat untuk tetap hidup.

Namun sebulan lalu, musibah besar menimpanya.
Saat sedang memasak air, vertigo yang ia derita tiba-tiba kambuh. Opa Saleh pingsan… dan tubuhnya terjatuh tepat di antara bara api dan air panas yang sedang ia masak. Tak ada yang menolong saat itu.
Ketika ia sadar, wajah dan tubuhnya sudah dipenuhi luka bakar yang hebat.
Sejak kejadian itu, hidup Opa Saleh berubah drastis. Ia tak lagi mampu memulung. Tak ada lagi penghasilan. Untuk bertahan hidup, ia hanya bergantung pada saudaranya yang juga hidup sederhana sekadar memberi makan agar Opa Saleh tetap bisa bertahan.

Lukanya pun belum benar-benar sembuh. Sesekali, keluarganya harus memanggil mantri dari puskesmas untuk membersihkan luka bakarnya dengan biaya mencapai Rp500.000 sekali perawatan. Bagi mereka, itu adalah angka yang sangat berat.

Kini, Opa Saleh tinggal di rumah yang kumuh dan tak terawat. Sendiri. Sakit. Tanpa kepastian.
Namun di tengah semua itu, Opa Saleh tetap berusaha kuat. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Ia hanya ingin hidup… dengan sedikit lebih layak.
Orang Baik, Hari ini kita masih diberi kesehatan, tempat tinggal, dan orang-orang yang peduli. Tapi Opa Saleh tidak memiliki semua itu. mari kita bantu Opa Saleh.
