Pak Yusuf Antu (61) adalah seorang buruh tani dari sebuah desa di Kabupaten Bone Bolango dengan penghasilan tak menentu tergantung pekerjaan. Sebagai kepala keluarga, ia bekerja keras memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kini Pak Yusuf terbaring lemah tak berdaya menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Semua bermula sejak 8 tahun lalu. Pak Yusuf pernah jatuh sakit yang membuatnya tidak bisa berjalan. Hingga akhir 2024, ia merasakan tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Senang bukan main, Pak Yusuf mengira ia akan sembuh. Namun, ujian kembali datang. Pak Yusuf yang semula hanya sakit gigi dan berobat pada mantri, mulai merasakan ada benjolan di area wajahnya.
Keluarga pun tak tinggal diam. Mereka segera membawa Pak Yusuf untuk berobat ke dokter dan mendapat rujukan ke dokter spesialis di RS. Tak ingin menyerah dengan penyakitnya, sejak Januari 2025 Pak Yusuf sudah 8 kali melakukan kemoterapi sesuai dengan anjuran dokter. Keinginan Pak Yusuf untuk sembuh sangatlah besar. Ia pernah datang ke rumah sakit di malam hari sendirian tanpa diketahui keluarga. Hal itu ia lakukan setelah sadar jadwal kemoterapinya terlewat serta dipicu rasa sakit yang luar biasa.
Di tengah kondisi kesehatannya, keadaan ekonomi keluarga Pak Yusuf juga sangat memprihatinkan. Sejak ia sakit, Pak Yusuf tak bisa lagi bekerja. Kini, ia bertahan hidup dari penghasilan anak-anaknya yang juga tak menentu.
Pak Yusuf yang dulu bekerja keras demi keluarga, kini terbaring lemah. Jangankan berjalan, untuk bangun saja kepalanya terasa berat. Bahkan, saat diarahkan untuk duduk ia langsung jatuh. Pak Yusuf juga hanya bisa makan-makanan lembek dan minum pakai sedotan.
Dokter menyarankan, Pak Yusuf harus menjalani kemo sampai 10 kali sebelum nanti akan dilakukan tindakan operasi.
Biaya pengobatan yang tidak tercover BPJS sangat sulit untuk dipenuhi. Belum lagi, biaya transportasi dan kebutuhan lain yang semakin menambah berat proses pengobatannya.
Besar sekali harapan Pak Yusuf untuk sembuh. Di tengah ujian yang sangat sulit ini, ia tetap berusaha dan menggantungkan harapan pada Tuhan. Keluarga pun tak tinggal diam. Mereka terus mengusahakan kesembuhan untuk Pak Yusuf dan berharap ia bisa sembuh seperti sedia kala.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hallo, Sobat Berdampak!
Abah Ajat merupakan seorang lansia dengan kondisi rentan yang tidur di atas karung dan bekerja sebagai penjual mainan lato-lato keliling. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan bahan pokok dan santunan tunai.
Alhamdulillah kita telah melaksanakan program penyaluran Semua Berhak Nyaman untuk Abah Ajat.
Kami mewakili Abah Ajat dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sobat Berdampak atas donasi dan dukungan yang telah diberikan.
Alhamdulillah, bantuan sudah diterima dan disambut dengan rasa syukur serta bahagia oleh Abah Ajat sekeluarga.
Terima kasih atas kebaikan yang telah dibagikan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli