Dua Kaki Lumpuh Tak Menghentikan Ikhtiar Abah Parmin, Demi Keluarga yang Menanti di Rumah Di usianya yang tak lagi muda, Abah Parmin (76) masih terus berjuang mencari nafkah. Meski kedua kakinya lumpuh dan tak mampu lagi menopang tubuhnya, semangatnya tak pernah ikut lumpuh. Setiap hari, Abah membuat sendiri kemoceng sederhana dengan tangan-tangannya yang mulai renta. Setelah selesai, kemoceng-kemoceng itu ia bawa berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan kursi roda. Terik matahari, hujan, hingga jalanan yang tak selalu ramah menjadi teman setia dalam setiap langkah ikhtiarnya. Bagi Abah, selama masih mampu menggerakkan tangan, selama masih bisa mendorong kursi roda, ia akan terus berusaha mencari rezeki yang halal. Namun perjuangan itu tak selalu membuahkan hasil.
Tak sedikit hari ketika Abah pulang tanpa satu pun kemoceng terjual. Tak ada uang yang bisa dibawa pulang. Bahkan untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari pun sering kali harus menahan rasa cemas. Di rumah, ada keluarga yang menanti kepulangannya. Sang istri tengah berjuang melawan sakit pada kakinya dan menderita maag kronis. Kondisinya membuat beliau sulit beraktivitas dan membutuhkan pengobatan yang hingga kini belum dapat dipenuhi karena keterbatasan biaya. Cobaan itu belum berhenti.
Abah Parmin juga memiliki seorang anak penyandang tunanetra yang masih membutuhkan perhatian, kasih sayang, serta biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di tengah himpitan ekonomi yang semakin berat, ada satu beban lain yang terus menghantui keluarga kecil ini. Biaya kontrakan rumah yang mereka tempati sudah hampir satu tahun belum mampu dibayarkan. Setiap hari, Abah dihantui rasa khawatir kehilangan tempat berteduh bagi keluarganya.
Meski hidup berkali-kali mengujinya, Abah Parmin tidak memilih menyerah. Ia tidak meminta-minta di jalan. Ia memilih berkarya, membuat kemoceng dengan tangannya sendiri, lalu menjualnya dari satu tempat ke tempat lain demi mempertahankan harga dirinya dan menghidupi keluarga. Namun, ikhtiar yang begitu besar belum mampu menutupi kebutuhan hidup, biaya berobat, dan tunggakan kontrakan yang terus menumpuk.
Temen Baik, hari ini kita bisa menjadi bagian dari harapan bagi Abah Parmin dan keluarganya. Mari ulurkan tangan terbaik kita agar Abah dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan lebih layak, melunasi tunggakan kontrakan, mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan, serta membantu sang istri dan anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik. Sekecil apapun bantuan yang diberikan akan menjadi harapan besar bagi keluarga yang tak pernah berhenti berjuang ini. Salurkan doa dan donasi terbaikmu melalui TemanBaik.com. Semoga setiap kebaikan yang kita titipkan menjadi jalan hadirnya kesehatan, rezeki yang lapang, dan kehidupan yang lebih layak bagi Abah Parmin beserta keluarganya.
