Di usianya yang baru 14 tahun, Falah seharusnya sibuk belajar, bercanda bersama teman-temannya, dan berlari di lapangan mengejar bola. Namun kenyataannya, masa remajanya justru diisi dengan rasa sakit yang tak pernah benar-benar pergi.
Sejak lahir, Falah hidup dengan tulang belakang yang melengkung—skoliosis. Tubuhnya perlahan tumbuh tak seperti anak-anak lain. Bahunya tak lagi sejajar. Panggul kiri dan kanan berbeda tinggi. Dada dan punggungnya menjorok ke dalam. Setiap hari ia menahan nyeri yang menusuk hingga ke lambung dan paru-paru, membuatnya sering sesak napas.
“Anak saya sering diejek… kadang saya sedih. Tapi Falah cuma bilang, ‘Gak apa-apa mah, emang Falah kondisinya seperti ini.’” Begitu tutur Bu Ela, ibunya, dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kesedihan.
Bertahun-tahun Falah tak pernah mendapat pengobatan karena keterbatasan biaya. Hingga di usia 12 tahun, kondisinya semakin memburuk. Rasa sakit datang lebih sering. Sesak dan ngilu tak lagi mengenal waktu. Pada September 2025, akhirnya Falah dibawa ke rumah sakit dan didiagnosis skoliosis berat. Dokter memutuskan operasi pada punggungnya. Ia dirawat hampir tiga minggu.
Namun perjuangan belum selesai. Kini Falah harus kontrol rutin ke rumah sakit. Ia masih sering terbaring lemah. Sudah hampir satu bulan ia belum bisa beraktivitas seperti biasa. Padahal, ia sangat rindu sekolah. Ia rindu bermain bola—hobinya sejak kecil. Ia bahkan bercita-cita menjadi pemain bola profesional.
Mimpinya sederhana, tapi jalannya terjal. Selama Falah dirawat, Bu Ela terpaksa berutang ke sana kemari. Hutang menumpuk. Suaminya sudah enam bulan menganggur dan kini merantau mencari pekerjaan—namun belum juga mendapatkan penghasilan. Saat ini, satu-satunya penopang keluarga hanyalah Bu Ela.
Ia berjualan gorengan keliling dan mie ayam di rumah dengan modal pinjaman. Penghasilannya tak lebih dari Rp75.000 per hari—itu pun jika dagangan habis dan tidak banyak yang berutang. Sering kali pembeli tak membayar. Hasil jualan hanya cukup untuk makan seadanya.
Untuk sekali kontrol berobat, Bu Ela harus menyiapkan sekitar Rp300.000 untuk ongkos pulang-pergi. Dokter juga menyarankan Falah minum susu khusus tulang seharga Rp500.000—yang hingga kini belum mampu ia beli. Di rumah, Bu Ela juga merawat ibunya yang sudah sepuh.
Di tengah segala keterbatasan, Bu Ela tetap bertahan. Demi Falah.
Sobat Berdampak, masa depan Falah masih panjang. Namun skoliosis ini mengancamnya lumpuh jika tidak menjalani pengobatan dan perawatan dengan baik.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan Falah. Uluran tangan Anda akan membantu Biaya kontrol dan pengobatan rutin Falah, Kebutuhan nutrisi untuk pemulihan tulangnya, Kebutuhan harian keluarga yang kini terhimpit ekonomi
Mari bantu Falah kembali ke sekolah. Kembali menendang bola di lapangan. Kembali bermimpi tanpa dibayangi rasa sakit. Karena setiap anak berhak tumbuh tanpa ejekan. Setiap anak berhak sehat.
Dan setiap mimpi layak diperjuangkan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hallo, Sobat Berdampak!
Pak Heri merupakan seorang pedagang kopi dengan kondisi distonia dan epilepsi. Bantuan yang diberikan berupa santunan tunai.
Alhamdulillah kita telah melaksanakan program penyaluran Semua Berhak Nyaman untuk Pak Heri.
Kami mewakili Pak Heri dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sobat Berdampak atas donasi dan dukungan yang telah diberikan.
Alhamdulillah, bantuan sudah diterima dan disambut dengan rasa syukur serta bahagia oleh Pak Heri sekeluarga.
Terima kasih atas kebaikan yang telah dibagikan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli