Pa Cucu, 35 tahun, seorang penjahit disabilitas yang sejak lahir memiliki keterbatasan pada tangan dan kakinya. Keduanya tidak bisa ditekuk, membuatnya kesulitan berjalan dan berdiri. Untuk bangkit dari duduk saja, ia harus mencari tembok untuk bersandar. Bahkan saat minum, air kerap tumpah karena genggamannya tak kuat. Untuk ke kamar mandi pun ia membutuhkan kursi kecil sebagai penopang. Di kampungnya ia akrab dipanggil “Pa Cunong”, namun di balik sapaan itu, tersimpan perjuangan yang tak semua orang pahami.
Pa Cucu tinggal di rumah orang tuanya bersama ayahnya yang baru pulih dari operasi lambung, istrinya, dan seorang anak berusia 2 tahun. Sejak tiga tahun terakhir, ia bekerja sebagai penjahit. Penghasilannya tak menentu, kadang hanya Rp15.000, paling besar Rp60.000, bahkan pernah seminggu tanpa satu pun pesanan. Pernah ia hanya makan nasi dan garam. Susu anaknya kini sering tak terbeli. Jika benar-benar tak ada uang, ia terpaksa meminjam ke saudara atau ayahnya menjual beras yang ada di rumah.
Dulu, setelah mengikuti pelatihan menjahit khusus disabilitas pada 2016, ia sempat memiliki mesin jahit sendiri. Namun mesin itu terpaksa dijual demi kebutuhan keluarga. Tahun 2023, ada yang kembali memberinya mesin jahit agar ia bisa bekerja lagi. Meski begitu, karena masih bekerja untuk usaha orang lain, penghasilannya tetap terbatas. Pa Cucu bermimpi memiliki usaha jahit sendiri agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih layak dan stabil untuk keluarganya.
Perjalanan menawarkan jasanya pun penuh luka. Ia pernah terjatuh hingga terluka karena tongkatnya tersandung batu. Pernah dilempari batu oleh anak kecil, bahkan dihina, “Maenya nu kieu bisa ngajait?” Kata-kata itu sempat membuatnya bertanya pada diri sendiri, mengapa ia dilahirkan seperti ini. Ia sering menangis saat mengingat almarhum ibunya—satu-satunya tempat ia dulu bercerita saat lelah. Namun dari semua hinaan dan rasa sakit itu, Pa Cucu memilih bangkit. Ia tetap berkeliling di bawah panas dan hujan, demi anak, istri, dan ayahnya.
Sobat Berdampak! di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Pa Cucu hanya ingin satu hal: kesempatan untuk mandiri lewat usaha jahit miliknya sendiri, agar tak lagi kebingungan membeli susu anak dan kebutuhan rumah tangga. Mari jadikan Ramadhan sebagai momen berbagi dan menguatkan pejuang keluarga seperti Pa Cucu.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
