Diperbarui 02 October 2026, 03:00 WIB
“Cita-cita aku jadi penghafal Qur’an. Aku terbiasa belajar Al-Qur’an braille dan mengaji,” ujar Tyo dengan penuh semangat.

Tyo adalah anak pertama dari dua bersaudara yang kini duduk di bangku SMP. Meski sejak lahir tidak dapat melihat, keterbatasan itu tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Tyo justru tumbuh menjadi anak yang berprestasi dan memiliki mimpi besar. Ia ingin menjadi seorang guru agar suatu hari nanti bisa berbagi ilmu dan bermanfaat untuk banyak orang, sekaligus membanggakan kedua orang tuanya.

Di sekolah, Tyo dikenal sebagai anak yang rajin dan berprestasi. Ia juga gemar bermain musik dan bernyanyi. Di balik semangatnya belajar dan mengejar cita-cita, Tyo harus menghadapi hal yang tidak mudah. Ia beberapa kali mendapat ejekan dari teman-temannya karena kondisi fisiknya. “Saya sering diolok teman-teman karena nggak bisa melihat. Ada yang manggil saya aneh juga karena wajah saya nggak normal. Sedih sekali,” ceritanya.

Meski sempat terluka dengan perkataan orang lain, Tyo memilih untuk tidak membalasnya dengan kemarahan. Ia percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya adalah yang terbaik. Justru dari keterbatasan tersebut, Tyo semakin berusaha membuktikan bahwa dirinya juga bisa belajar, berprestasi, dan memiliki masa depan seperti anak-anak lainnya. Sepulang sekolah, Tyo juga tidak hanya menghabiskan waktunya untuk belajar. Ia membantu ayahnya bekerja di sebuah bengkel kecil yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Dari bengkel tersebut, sang ayah hanya mendapatkan sekitar Rp55.000 per hari. Penghasilan yang sederhana itu harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Tyo dan keluarganya pun hidup dalam keterbatasan. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil berdinding kayu dengan kondisi yang sederhana. Meski begitu, Tyo tetap memiliki semangat untuk terus belajar dan menghafalkan Al-Qur’an. Ia hanya menyimpan satu kekhawatiran: bagaimana jika kondisi ekonomi keluarganya membuat dirinya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi? Di usia yang seharusnya dipenuhi dengan mimpi dan semangat belajar, Tyo justru sudah memikirkan masa depan keluarganya. Namun hingga kini, ia tetap berusaha belajar sebaik mungkin dan mengejar cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus seorang guru. Semoga langkah Tyo untuk meraih cita-cita tidak terhenti hanya karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung