Di usia yang baru menginjak 10 tahun, seharusnya Yasmin pulang sekolah untuk bermain atau belajar. Namun kenyataannya berbeda.
Setiap siang hingga sore, Yasmin berkeliling menjajakan opak dan jajanan. Dagangan itu ia ambil dari bandar di dekat rumah dengan keuntungan yang sangat kecil, hanya sekitar Rp5.000–Rp10.000 per hari, bahkan sering kali tidak menentu.
Uang sekecil itu harus cukup untuk membeli makan sehari-hari sekaligus mencicil utang modal usaha di warung yang kini masih tersisa sekitar Rp470.000.
Yang membuat hati semakin pilu, Yasmin kini hanya tinggal bersama sang nenek, Danah, yang menderita penyakit jantung, hipertensi, dan sesak napas. Kondisi kesehatan nenek membuatnya tak lagi mampu bekerja seperti dulu.
Ayah Yasmin telah meninggal dunia saat berada di penjara. Sementara sang ibu memilih menikah lagi dan meninggalkan Yasmin. Sejak itu, Yasmin berusaha tegar menjalani hidup berdua bersama neneknya.
Meski harus memikul beban hidup yang begitu berat, Yasmin tidak pernah menyerah pada pendidikan. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang rajin dan berprestasi. Ia berkali-kali meraih juara dalam lomba menulis, tahfiz Al-Qur'an, dan berbagai perlombaan lainnya.
Yasmin masih menyimpan mimpi besar untuk terus sekolah dan mengubah masa depan keluarganya. Namun keterbatasan ekonomi membuat langkahnya semakin berat.
Mari jadi bagian dari harapan Yasmin. Sekecil apa pun donasi yang diberikan, bisa membantu seorang anak tetap menggenggam mimpinya dan menemani neneknya menjalani hari-hari dengan lebih tenang.
