20 Tahun Berjualan Tahu, Abah Ubad Tak Pernah Memilih Menyerah
Di usia 66 tahun, ketika sebagian orang mungkin sudah menikmati masa istirahatnya, Abah Ubad masih harus berkeliling di jalanan Ciamis demi menyambung hidup.
Sudah kurang lebih 20 tahun Abah berjualan tahu keliling. Setiap sore, sekitar pukul 3, Abah mulai membawa dagangannya berkeliling ke berbagai tempat, seperti kawasan Alun-Alun Ciamis, pasar, hingga terminal. Abah terus berjalan hingga sekitar tengah malam.
Dari setiap tahu yang terjual, keuntungan Abah hanya sekitar Rp200. Biasanya tahu dijual seharga Rp600 per buah. Jika dagangan habis, Abah bisa membawa pulang sekitar Rp50.000. Namun jika tidak habis, penghasilannya hanya sekitar Rp30.000. Bahkan, terkadang uang yang didapat belum cukup untuk menutup setoran kepada bos.
Di rumah, Abah masih memiliki seorang istri yang menjadi tanggungannya. Dengan penghasilan yang tidak menentu, kebutuhan sehari-hari terkadang tidak terpenuhi. Abah dan istrinya pun terpaksa berutang kepada bos dan warung agar tetap bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup.
Beratnya perjuangan Abah bukan hanya soal penghasilan.
Selama berjualan di jalanan, Abah beberapa kali mengalami kejadian yang merugikan. Abah pernah menerima uang palsu dan tanpa sadar memberikan uang kembalian dengan uangnya sendiri.
Abah juga pernah ditipu oleh seseorang yang berpura-pura hendak mengambil uang. Orang tersebut meminjam uang Abah dan mengatakan tas Abah akan diganti dengan yang baru. Abah menunggu cukup lama, tetapi orang itu tidak pernah kembali. Uang dan tas Abah pun ikut dibawa kabur.
Namun, Abah tidak memilih untuk berhenti.
Keesokan harinya, Abah kembali berjualan.
Hari demi hari, Abah tetap berjalan menyusuri jalanan hingga tengah malam, meski kondisi kakinya kini tidak lagi seperti dulu.
Puluhan tahun melakukan pekerjaan berat membuat Abah mengalami masalah pada kakinya. Menurut pemeriksaan dokter, kondisi tersebut berkaitan dengan saraf dan kini cukup menghambat Abah untuk berjalan. Abah harus berjalan dengan kondisi kaki yang tidak normal dan menahan rasa tidak nyaman setiap kali berjualan.
Bahkan, ketika belum ada pembeli dan perut mulai lapar, terkadang Abah hanya bisa memakan tahu dagangannya sendiri untuk mengganjal perut.
Begitulah cara Abah bertahan.
Bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena Abah tidak ingin menyerah.
Kini, Abah memiliki harapan sederhana: ingin mendapatkan pengobatan dan terapi yang layak untuk memulihkan kondisi kakinya, tanpa harus selalu terkendala keterbatasan biaya.
Dan Abah memiliki satu mimpi yang ingin diwujudkan.
Abah ingin mempunyai usaha ternak ikan sendiri.
Abah ingin memiliki penghasilan dari kolam miliknya sendiri, sehingga suatu hari nanti Abah tidak perlu lagi berjalan berkeliling menjual tahu di jalanan hingga tengah malam.
Mungkin bagi kita, membantu Abah terlihat sederhana.
Namun bagi Abah, bantuan kecil itu bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih layak.
Mari kita bantu Abah Ubad mewujudkan harapannya.
Agar di usia senjanya, Abah tidak lagi harus berjalan jauh demi sesuap nasi.
Agar kaki Abah bisa mendapatkan pengobatan yang layak.
Agar utang-utang Abah perlahan bisa teratasi.
Dan agar suatu hari nanti, Abah bisa memiliki usaha ternak ikan sendiri—usaha yang bisa menjadi sumber penghidupan tanpa harus kembali berkeliling hingga tengah malam.
Karena Abah tidak meminta hidup mewah. Abah hanya ingin hidup dengan lebih layak.
Semoga kebaikan dari kita menjadi langkah kecil untuk mengantarkan Abah menuju kehidupan yang lebih baik. ❤️