Di usia 82 tahun, saat banyak orang menikmati masa tua bersama keluarga, Abah Udin masih setia menyusuri jalan demi mencari rezeki.
Selama kurang lebih 42 tahun, Abah berjualan karpet keliling. Sebelumnya, beliau berjualan kasur lantai. Namun, sebuah kecelakaan ketika terserempet mobil membuat kondisi kakinya tak lagi kuat mengangkat beban berat. Sejak saat itu, Abah beralih menjual karpet yang lebih ringan untuk dibawa berkeliling.
Setiap hari, Abah berangkat setelah Shubuh dan baru pulang menjelang Maghrib. Seharian berjalan, penghasilan yang beliau bawa pulang hanya sekitar Rp20.000 hingga Rp40.000, itupun jika ada karpet yang berhasil terjual.
Yang lebih memilukan, sudah satu bulan terakhir dagangan Abah tidak ada yang laku.
Meski usia terus bertambah dan tenaga semakin berkurang, Abah tetap bertahan. Bukan karena ingin, tetapi karena inilah satu-satunya pekerjaan yang masih mampu beliau lakukan.
Di saat tak ada dagangan yang terjual dan tak ada uang untuk membeli makanan, Abah dan sang istri hanya bisa bersyukur atas kebaikan tetangga yang sesekali datang membawa makanan.
Kisah Abah Udin mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak mengenal usia. Di balik senyumnya, ada harapan sederhana: dagangannya laku agar bisa membawa pulang nafkah untuk hari itu.
Semoga selalu ada tangan-tangan baik yang menguatkan langkah Abah, dan semoga setiap ikhtiar beliau dibalas dengan rezeki yang lebih baik.