Sudah lebih dari 60 tahun, Abah Bahrum telah mengabdikan hidupnya sebagai tukang cukur. Kini, di usia 84 tahun, tangan renta Abah masih setia menggenggam gunting dan sisir, membuka jasa pangkas rambut sederhana di bekas selokan pinggiran jalan raya. Tanpa bangunan layak, tanpa papan nama besar, hanya kursi sederhana dan semangat hidup yang belum padam.

Untuk sekali potong rambut, Abah biasanya mematok tarif Rp15.000–Rp20.000. Namun tak jarang, Abah mencukur tanpa mematok harga sama sekali. Siapa pun yang datang, terutama para pejuang jalanan seperti pemulung, tukang becak, atau orang-orang yang hidup pas-pasan, tetap ia layani dengan tulus. Bahkan meski ada yang mencukur lalu pergi tanpa membayar, Abah tak pernah mengeluh.
Penghasilan Abah sangat tidak menentu. Ada hari di mana ia tak mendapat satu pun pelanggan. Di usia senja, Abah kerap ketiduran di kursinya, bukan karena malas, melainkan karena kelelahan menunggu harapan yang tak kunjung datang. Padahal, Abah masih memikul banyak tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Meski usia telah renta, Abah tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah, biaya risiko, serta membantu anak-anaknya semampu yang ia bisa.

Kondisi kesehatan Abah pun kian melemah. Ia menderita stroke dan penyakit jantung. Saat sedang mencukur, Abah sering merasakan sesak napas dan linu di lututnya. Pendengarannya pun terganggu, telinga kanannya sudah tidak dapat mendengar sama sekali, membuat Abah sering kesulitan berkomunikasi dengan pelanggan.
Setiap bangun tidur, tubuh Abah terasa nyeri dan kaku. Namun semua rasa sakit itu ia simpan sendiri. Ia tetap duduk, menunggu, dan berharap masih ada rezeki yang menghampiri hari itu. Di rumah, sang istri juga hidup dengan keterbatasan. Ia menderita darah tinggi, asam urat, dan kini kedua matanya sudah tidak bisa melihat. Untuk kebutuhan berobat, mereka hanya bisa bertahan sebisanya.
Selama hidupnya, Abah Bahrum telah tujuh kali keluar masuk rumah sakit. Namun semua itu tak membuatnya berhenti berjuang. Selama masih bisa duduk dan menggerakkan tangan, Abah memilih tetap bekerja karena baginya, bekerja adalah cara untuk bertahan hidup tanpa merepotkan siapa pun.
Hari ini, Abah Bahrum tak meminta banyak. Ia hanya berharap ada uluran tangan agar sisa hidupnya bisa dijalani dengan sedikit lebih layak, lebih ringan, dan lebih manusiawi. bantu dengan cara :
1. Klik Donasi Sekarang
2. Masukkan Nominal Donasi
3. Pilih Metode Pembayaran
4. Dapatkan Laporan via Email

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.