"Selama masih diberi tenaga, Abah akan tetap berjualan."
Di usianya yang telah menginjak 85 tahun, Abah masih setia berjualan tahu di sebuah pom bensin. Perjalanan ini sudah beliau jalani sejak tahun 1980-an. Hampir setiap hari Abah berjualan, kecuali hari Jumat yang beliau khususkan untuk memperbanyak ibadah.
Bagi Abah, mencari rezeki dan beribadah adalah dua hal yang selalu berjalan berdampingan. Di sela-sela menunggu pembeli, tangan beliau tak pernah lepas dari tasbih. Bibirnya terus berzikir. Begitu azan Zuhur atau Asar berkumandang, Abah langsung menutup dagangannya sejenak dan bergegas ke masjid. Shalat berjamaah selalu beliau usahakan tepat waktu.
Bukan hanya shalat, Abah juga dengan ikhlas membersihkan masjid agar tetap bersih dan nyaman untuk digunakan beribadah. Setelah selesai shalat, beliau biasanya beristirahat sejenak. Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Jika dipaksakan terus berjualan, kepala terasa pusing dan badan menjadi sangat lemas.
Beberapa waktu lalu, Abah bahkan sempat hanya bisa berbaring di rumah selama satu bulan karena sakit maag yang dideritanya. Kini, untuk makan sehari-hari pun beliau lebih sering mengandalkan bubur atau kupat. Lauknya sederhana, terkadang hanya kecap jika memang tidak ada yang lain.
Meski usia sudah senja, tanggung jawab Abah belum selesai. Beliau masih menafkahi sang istri dan seorang anak yang belum menikah dan masih tinggal bersamanya. Tiga anak lainnya telah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing.
Perjuangan berjualan pun tidak selalu mudah. Pernah suatu hari, saat Abah sedang menunaikan shalat, uang hasil jualannya sebesar Rp80.000 hilang dicuri. Tak jarang dagangannya ditawarkan ke banyak orang, tetapi tidak ada yang membeli. Bahkan, pernah pula ada preman yang meminta tahu dagangannya, padahal modal pun belum kembali.
Sering kali, dari semua tahu yang dibawa sejak pagi, Abah hanya mampu menjual sekitar Rp20.000 saja. Sisanya harus dibawa pulang karena tidak laku.
Yang lebih memprihatinkan, Abah tinggal di rumah yang kondisinya sudah sangat rapuh. Atap rumahnya lapuk dimakan usia. Atap kamar mandi bahkan hampir ambruk dan membahayakan keselamatan.
Namun di balik segala keterbatasan itu, Abah tetap menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Beliau hanya memiliki harapan sederhana. Jika Allah memberikan rezeki lebih, Abah ingin menambah modal agar dagangannya bisa terus berjalan. Dan ketika kelak dipanggil Sang Pencipta, beliau berharap semua urusannya telah dipersiapkan dengan baik sehingga dapat pergi dengan hati yang tenang.
Semoga setiap langkah Abah dalam mencari rezeki, setiap zikir yang beliau lantunkan, dan setiap sujud yang beliau tegakkan menjadi amal yang terus mengalir. Semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan, dan melapangkan jalan rezekinya. Aamiin.