Di usianya yang sudah 60 tahun, Ibu Utari masih harus berjalan dari gang ke gang menjajakan keripik dagangannya.
Semua itu ia lakukan demi satu orang yang paling ia cintai anaknya, Rahayu Utami (26 tahun).
Sejak lahir, Utami mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental. Karena kondisinya itu, Utami membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih dibanding anak seusianya.
Cobaan keluarga kecil ini semakin berat ketika suami Bu Utari meninggal dunia pada tahun 2017 karena sakit. Saat itu Utami masih kecil, sekitar 10 tahun, dan sejak saat itu Bu Utari harus berjuang seorang diri membesarkan serta merawat anaknya.
Meski memiliki keterbatasan, Utami tetap memiliki semangat belajar yang besar.
Ia sangat senang menggambar, mewarnai, dan mengaji. Hal-hal sederhana itu membuat Utami merasa bahagia.
“Tami ini masih pengen banget untuk sekolah… cuma gimana lagi kondisinya seperti ini kang,” Ujar Bu Tari dengan mata berkaca-kaca.
Dulu Utami sempat bersekolah di SLB selama sekitar 6 tahun. Namun setelah sang ayah meninggal, Bu Utari tidak lagi mampu membiayai sekolahnya.
Sejak saat itu Utami hanya belajar seadanya di rumah.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Bu Utari berjualan keripik keliling setiap hari. Keripik yang ia jual pun sebenarnya milik orang lain, sehingga keuntungan yang ia dapat tidaklah seberapa.
Dalam sehari, penghasilannya hanya sekitar Rp50.000.
“Kalau lagi ramai ya sampai Rp75.000 kang, berapapun hasilnya saya bersyukur banget,” Ujar Bu Tari.
Dari penghasilan itulah ia harus mencukupi kebutuhan makan sekaligus membayar kontrakan sederhana yang mereka tinggali sebesar Rp600.000 per bulan. Namun kenyataannya tidak mudah.
“Itu pun saya ini sudah nunggak sekitar dua bulan… saya bingung harus cari tambahan kemana lagi kang,” kata Bu Tari lirih.
Perjuangannya semakin berat karena dagangannya sering dihutang oleh orang sekitar.
“Bu saya utang dulu ya, seminggu nanti saya bayar… ya saya juga tahu gimana rasanya nggak ada uang, jadi ya sudah saya iyain saja,” Ungkap Bu Tari dengan pasrah.
Sebagai seorang ibu, Bu Utari sebenarnya hanya memiliki satu harapan sederhana.
Jika suatu hari ada rezeki, ia ingin memiliki modal usaha sendiri, agar bisa berjualan tanpa harus mengambil dagangan milik orang lain. Dengan begitu, penghasilannya mungkin bisa sedikit lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama Utami.
Di usia yang tak lagi muda, Bu Utari tetap berusaha kuat demi anaknya.
Sahabat Kebaikan, mari kita ringankan perjuangan Bu Utari agar ia bisa terus merawat Utami dengan lebih tenang dan memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anaknya.
Sekecil apapun bantuan yang diberikan akan menjadi harapan besar bagi ibu dan anak yang tengah berjuang ini.

Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan hidup Bu Utari dan Rahayu Utami seperti biaya kontrakan, kebutuhan sehari-hari, serta dukungan modal usaha. Selain itu, donasi juga dapat digunakan untuk implementasi program kemanusiaan dan membantu para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.