Dulu di Mata, Kini Kanker Menyerang Pipi Rara
Rara, seorang anak kecil berusia 2 tahun, yang seharusnya menghabiskan hari-harinya dengan bermain dan belajar, justru harus kembali berjuang melawan penyakit berat. Penyakit itu pernah menyerang bagian matanya. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Rara mengidap kanker tulang ganas yang membutuhkan pengobatan intensif agar nyawanya bisa diselamatkan.
Sejak saat itu, kehidupan Rara berubah. Hari-harinya dipenuhi dengan kemoterapi, kontrol rutin ke rumah sakit, dan rasa sakit yang harus ia tahan di usia yang masih begitu belia. Setiap kali obat masuk ke tubuhnya, Rara hanya bisa menggenggam tangan ibunya sambil berharap rasa nyeri itu segera berlalu.
Perjuangan panjang itu sempat menghadirkan secercah harapan. Setelah beberapa kali menjalani kemoterapi, pembengkakan di mata Rara perlahan mengecil. Kondisinya mulai membaik, dan keluarga percaya bahwa Rara sedang berjalan menuju kesembuhan.
Di tengah proses pengobatan, kemoterapi dan kontrol Rara terpaksa terhenti. Bukan karena mereka menyerah, melainkan karena sang ibu, Bu Putri, jatuh sakit akibat penyakit lambung yang dideritanya. Tidak ada lagi orang yang bisa mengantar Rara ke rumah sakit. Di saat keluarga sedang berjuang bertahan, penyakit itu justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali menyerang.
Kini kanker itu muncul di tempat yang berbeda.Bukan lagi di mata, melainkan di pipi Rara. Benjolan itu terus membesar dari hari ke hari hingga membuat wajah mungilnya berubah. Rasa sakit yang ia rasakan semakin hebat, sementara pengobatan harus segera dilanjutkan agar kanker tidak semakin menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Di balik perjuangan Rara, ada seorang ibu yang terus bertahan meski hidup berkali-kali menjatuhkannya. Ibu Putri bekerja sebagai SPG konter dengan penghasilan yang tidak menentu. Penghasilannya sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di saat yang sama, ia juga harus membesarkan kedua anaknya seorang diri.
Cobaan itu semakin berat ketika suaminya memilih pergi meninggalkan keluarga. Bukannya memberi kekuatan, ia justru meninggalkan luka yang sulit dilupakan."Sudahin aja... biar Rara mati."
Kalimat dari sang suami itu masih terngiang di telinga Bu Putri hingga hari ini. Sebagai seorang ibu, hatinya hancur mendengar ucapan tersebut. Tetapi ia memilih menelan luka itu sendirian. Baginya, selama Rara masih bernapas, selama itu pula ia akan terus memperjuangkan kesembuhan putrinya, apa pun yang harus ia hadapi. Yang pada akhirnya ia bercerai dengan suaminya.
Kini Bu Putri berjuang seorang diri. Menjadi ibu, ayah, sekaligus tulang punggung keluarga. Mengurus dua anak, mencari nafkah, dan terus berusaha membawa Rara kembali menjalani pengobatan meski kemampuan mereka sangat terbatas.
Sahabat Kebaikan, di tengah segala keterbatasan, Bu Putri hanya memiliki satu harapan. Semoga masih ada hati-hati baik yang bersedia menemani perjuangan Rara, agar ia bisa kembali menjalani pengobatan dan memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya. Setiap doa, dukungan, dan uluran tangan yang diberikan akan menjadi harapan baru bagi Rara untuk terus melawan kanker yang berusaha merenggut masa kecilnya.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan pengobatan Rara dan kebutuhan keluarga yang lainnya. Selain itu, akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.