Pada siang hari di tengah hiruk pikuk simpang empat lampu merah, sosok remaja bernama Dzaky berdiri setiap hari. Usianya baru 16 tahun, tetapi garis wajah dan tatapannya menyimpan beban yang jauh lebih tua. Di tangannya ada tisu kecil yang ia tawarkan pada pengendara, sementara langkahnya tampak pincang bekas kecelakaan yang belum pernah benar-benar ia obati.

Beberapa tahun lalu, sebuah motor menabraknya ketika ia hendak menyeberang. Kakinya patah parah. Dokter terpaksa mengambil tulang dari bagian betis untuk disambungkan ke tulang pahanya. Ia divonis tidak akan bisa berjalan normal lagi. Dan meski ada pen di kakinya, Dzaky tak pernah punya uang untuk kontrol, apalagi menjalani perawatan lanjutan. Setiap langkah yang ia ambil hari ini adalah langkah yang penuh rasa sakit.

Siang hari biasa dimulai pada pukul 12.00 hingga menjelang magrib, ia menjual tisu di lampu merah. Bukan untuk gaya hidup remaja, bukan untuk jajan, tetapi untuk sesuatu yang lebih penting sangu adik-adiknya yang sekolah dan sedikit biaya untuk mengurangi rasa nyeri di kakinya. Dzaky adalah anak kedua dari lima bersaudara. Situasi keluarga membuat Dzaky mengambil keputusan besar ketika masih kelas 4 SD berhenti sekolah. Bukan karena malas, tetapi karena uang untuk membeli seragam dan buku saja tak ada. Ia memilih bekerja agar adik-adiknya tetap bisa sekolah.

Sore hari, ketika lampu jalan mulai redup, lelah di tubuh Dzaky semakin terasa. Pegal karena berdiri terlalu lama, sakit karena kakinya dipaksa bekerja, dan sedih karena ia tahu ia seharusnya masih duduk di bangku sekolah bukan berjuang di jalanan. Tapi ia tak punya pilihan lain. Hidup kadang menuntut kedewasaan yang terlalu cepat dari mereka yang paling muda. Yang membuat kisah Dzaky lebih perih adalah kenyataan bahwa kondisinya tidak harus separah ini. Jika ia bisa kontrol rutin, jika ia bisa mendapatkan perawatan lanjutan, peluangnya untuk berjalan lebih baik masih ada. Namun tanpa biaya, keadaan itu hanya menjadi harapan yang semakin menjauh.

Kini ia tetap melangkah meski pincang, tetap tersenyum meski sakit, dan tetap bekerja meski tubuh menolaknya. Ia ingin adik-adiknya punya masa depan lebih baik, dan ia ingin punya sedikit kesempatan untuk sembuh. Dzaky tidak meminta banyak hanya ingin punya hidup yang tidak ditentukan oleh rasa sakit dan kemiskinan.

Mari ringankan langkah Dzaky. Ulurkan sedekah terbaikmu agar ia tak terus menahan sakit di jalanan demi keluarganya, bantu Dzaky dengan cara :
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan Beliau.
