Terik matahari yang menyengat tak menghentikan langkah Mbah Insana untuk mencari rezeki. Di usianya yang sudah 71 tahun, beliau hidup sebatang kara sejak sang suami meninggal dunia tenggelam saat bekerja di laut. Sejak itu, Mbah Insana harus berjuang seorang diri untuk bertahan hidup.

Matanya kini mulai sakit, saat siang hari pandangannya terasa gelap dan buram, sementara di malam hari justru silau hingga sulit melihat dengan jelas. Meski begitu, Mbah Insana tetap memaksakan diri keluar rumah, berjualan seadanya demi bisa makan dan membayar kebutuhan harian.
Sering kali beliau harus berhenti karena pandangan matanya makin kabur, tapi semangatnya tak pernah pudar. Di balik tubuh renta itu, tersimpan kekuatan luar biasa dari seorang perempuan tua yang menolak menyerah pada nasib.

Dulu, Mbah Insana bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun, karena sudah terlalu tua, tak ada lagi yang mau mempekerjakannya. Sejak tahun 2022, beliau mulai berjualan peyek kecil-kecilan di depan rumah orang. Untung yang didapat hanya seribu rupiah per biji, tapi itulah yang membuat beliau bisa makan hari itu.
Beliau tinggal menumpang di rumah tetangga, tanpa keluarga, tanpa anak, hanya ditemani harapan dan sisa tenaga di tubuh renta.
Setiap pagi, dengan langkah perlahan dan mata yang tak lagi jelas melihat, Mbah Insana tetap berjualan.
“Yang penting bisa makan dari hasil sendiri,” ucapnya pelan, sambil tersenyum.
Mari bantu Mbah Insana, agar di usia senjanya, beliau bisa hidup lebih tenang, tanpa harus terus memikirkan besok makan dari mana.