Di balik sunyinya tengah hutan, berdiri sebuah gubuk kayu yang lapuk dimakan usia. Dinding-dinding papannya sudah banyak yang bolong dan merenggang, membiarkan angin malam menusuk hingga ke tulang.

Di tempat terisolasi inilah Mbah Joko dan Mbah Tun menghabiskan sisa hidup mereka. Sudah 10 tahun berlalu tanpa pernah ada setitik pun cahaya listrik yang menerangi kegelapan malam mereka, sebab jauh dari pemukiman Tubuh kedua lansia ini sudah sangat renta, renta oleh beban hidup yang terus menumpuk tiap hari. Langkah kaki Mbah Joko kini lambat dan bertumpu pada sebatang kayu, sementara Mbah Tun berjalan semakin bungkuk menahan rasa nyeri di perutnya. Tidak ada keriuhan sanak keluarga atau canda tawa cucu di gubuk itu. Sepasang lansia ini hidup sebatang kara,
Kondisi kian menghimpit tatkala penyakit lambung yang diidap Mbah Tun semakin menggerogoti fisiknya. Wajahnya yang keriput tampak kian pucat, dan matanya menyiratkan rasa sakit yang luar biasa setiap kali ia mencoba berbaring di atas bale-bale bambu. Mbah Joko hanya bisa sabar dan merawatnya dengan tangan gemetar, tanpa mampu membawanya ke rumah sakit atau sekadar membeli obat medis karena keterbatasan biaya.
Untuk bertahan hidup sehari-hari, mereka sepenuhnya bergantung pada apa yang bisa dipetik dari tanah kering di sekitar tempat tinggal. Namun, kemarau panjang yang melanda selama empat bulan terakhir membuat sumber air mengering total. Tanaman di kebun kecil mereka layu dan gagal panen, meninggalkan tanah yang merekah pecah. Tidak ada beras di piring, tidak ada lauk pauk yang layak untuk memberi nutrisi bagi tubuh Mbah Tun yang sedang sakit.
Setiap hari, Mbah Joko harus berjalan menyusuri jalanan hutan yang terjal hanya untuk mencari daun singkong dan sisa-sisa singkong yang masih bertahan hidup di bawah tanah yang keras. Makanan sederhana itulah yang menjadi penambal lapar mereka, direbus seadanya tanpa bumbu yang memadai. Rasa pahit daun singkong menjadi saksi bisu perjuangan sepasang suami istri ini dalam menyambung napas di tengah segala keterbatasan yang mengepung.
Fasilitas sanitasi yang mereka miliki pun sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kamar mandi mereka terletak sedikit di luar gubuk, hanya berpagarkan potongan terpal bekas yang sudah robek-robek dan diikat seadanya pada patok kayu. Tanpa atap dan tanpa pintu yang tertutup rapat.
Penderitaan mereka tak berhenti pada urusan perut dan kesehatan semata. Gubuk reot tempat mereka bernaung berdiri di atas lahan milik Perhutani, tanah negara yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Rasa cemas selalu membayangi pikiran Mbah Joko setiap kali menatap atap rumahnya yang bocor; ketakutan akan kehilangan tempat tinggal satu-satunya yang menjadi benteng perlindungan mereka dari hujan dan terik matahari.
Sedikit uluran tangan kita adalah secercah cahaya dan harapan baru bagi Mbah Joko dan Mbah Tun untuk bertahan hidup. Mari bersama-sama kita sisihkan sebagian rezeki untuk membantu biaya pengobatan Mbah Tun, menyediakan bahan pangan yang layak, serta membangun fasilitas tempat tinggal dan sanitasi yang pantas bagi mereka. Setiap kebaikan
