Tiga Anak Yatim Hidup Dalam Keterbatasan, Putus Sekolah dan Kelaparan. Bantu Mereka Bertahan
Tiga Anak Yatim Hidup Dalam Keterbatasan, Putus Sekolah dan Kelaparan. Bantu Mereka Bertahan

Tiga Anak Yatim Hidup Dalam Keterbatasan, Putus Sekolah dan Kelaparan. Bantu Mereka Bertahan

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
0
Tercapai
0%
Sisa waktu
32 hari

Diperbarui 25 September 2026, 03:00 WIB

Penggalang Dana

Arah Cahaya
Lembaga resmi terverifikasi
Menggalang dana untuk
Ditinggal Ayah dan Ibu, 2 Kakak Terpaksa Putus Sekolah Demi Bertahan Hidup

Cerita

24 September 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Di tengah sunyinya rumah sederhana itu, terdapat 3 anak piatu yaitu sikembar Yen dan yuni 14 th dan adik kecilnya alwi 6 th, Dinding rumah mereka menjadi saksi bisu betapa cepatnya masa kecil mereka direnggut oleh keadaan.

Di sudut ruangan,ada nenek mereka Kasiyem (62) berbaring lemah di atas tikar yang kusam, menjadi satu-satunya pelindung yang kini justru butuh perlindungan mereka.

Ujian hidup datang bertubi-tubi tanpa permisi. Belum selesai rasa trauma saat sang ayah pergi meninggalkan mereka begitu saja akibat konflik keluarga dan tak ada kabar hingga sekarang, duka mendalam kembali menghantam ketika sang ibu meninggal dunia.

Dalam sekejap, tiga anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua ini kehilangan arah dan menggantungkan hidup sepenuhnya pada Mbah Kasiyem.

Namun, ketegaran Mbah Kasiyem kini goyah dihantam sakit keras. Beliau menderita prolaps uteri atau turun peranakan, di mana rahimnya menonjol keluar dari vagina. Fisiknya yang kian menggerogoti membuat beliau hanya bisa terbaring pasrah di atas tikar. Tanpa biaya untuk berobat ke rumah sakit, simbah hanya bisa menahan rasa sakit setiap hari sambil meratapi nasib cucu-cucunya. Di tengah rasa sakitnya yang menumpuk, Mbah Kasiyem sering meneteskan air mata seraya berbisik, “Kasihan cucuku, Mas,aku cuma mikir hidupnya cucu-cucuku ke depannya gimana” ujar simbah

selain merawat simbahnya setiap pagi yeni yuni masih harus merawat dan mengantar adinya untuk bersekolah di salah satu TK, kemudian mereka berangkat jualan jajan keliling dari siang hingga sore,rata rata mereka dapat 30 - 40 ribu setiap hari, setiap rupiah yang terkumpul mereka tabung demi sesuap nasi dan obat seadanya untuk sang nenek serta kebutuhan lainnya

Kondisi ini memaksa Yeni dan Yuni mengambil keputusan berat untuk putus sekolah sejak setahun lalu. Bagi mereka, pendidikan adalah kemewahan yang harus dikorbankan demi menyambung hidup. Meski kini banyak sekolah gratis, mereka tidak punya pilihan lain. "Kalau kami sekolah, lalu dari mana kami bisa dapat uang untuk makan dan merawat Mbah?" ujar mereka.

Anak-anak seusia Yeni, Yuni, dan Alwi seharusnya duduk di bangku sekolah, bermain, dan tertidur lelap dalam pelukan hangat orang tua. Saatnya kita hadir mengulurkan tangan untuk mengembalikan senyum mereka. Mari bersamai perjuangan kecil ini agar Mbah Kasiyem bisa mendapatkan pengobatan medis yang layak dan ketiga anak ini dapat kembali merajut cita-cita mereka di sekolah.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.