Di usia yang sudah 84 tahun, saat banyak orang seusianya memilih beristirahat di rumah, Mak Enoh masih harus berjalan membawa dagangan gorengan demi bertahan hidup. Setiap hari Minggu pagi, sejak pukul 08.00 hingga menjelang siang, Mak Enoh berjualan gorengan di tempat ramai. Dengan langkah yang mulai melemah, beliau berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya, berharap ada yang membeli dagangannya.
Di hari biasa, Mak Enoh tetap berjualan di dekat rel kereta, tak jauh dari tempat kontrakannya. Untuk pergi berjualan, beliau harus naik angkutan umum seorang diri. Gorengan yang dijual pun bukan miliknya sendiri. Mak Enoh hanya mengambil dagangan dari orang lain untuk dijual kembali, lalu harus menyetorkan hasil penjualannya setelah selesai berdagang.
Dari setiap gorengan yang terjual, Mak Enoh hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp100 hingga Rp200 saja. Jika seluruh dagangannya habis, penghasilan yang bisa dibawa pulang hanya sekitar Rp30.000. Bahkan sering kali lebih sedikit karena dagangan tidak habis terjual.
Namun di balik perjuangan itu, ada kenyataan yang lebih menyayat hati. Mak Enoh sudah lama ditinggal wafat oleh suaminya. Kini beliau tinggal bersama anaknya yang sedang sakit. Anak Mak Enoh menderita darah tinggi, bronkitis, dan tangan kirinya sudah kebas hingga sulit digerakkan. Untuk membeli obat pun harus menunggu jika ada uang lebih. Sering kali, kebutuhan makan sehari-hari hanya mengandalkan pemberian dari orang lain dan makan seadanya.
Meski tubuhnya sudah renta, Mak Enoh tetap memaksakan diri berjualan. Beliau sering merasa pusing karena harus berpanas-panasan terlalu lama. Penglihatannya pun semakin buram, salah satu matanya sudah tidak jelas untuk melihat. Tetapi Mak Enoh tetap bertahan. Bahkan Mak Enoh pernah mengalami penipuan saat dulu berusaha mencari pengobatan untuk almarhum suaminya. Sejak saat itu, rasa takut dan khawatir terus membayangi hidupnya.
Dengan suara lirih dan mata yang mulai berkaca-kaca, Mak Enoh menyimpan harapan sederhana: ingin berobat untuk matanya dan ingin anaknya bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Namun hingga hari ini, keinginan itu belum mampu terwujud karena keterbatasan biaya.
