Usia satu abad lebih dan istri pejuang kemerdekaan, mbah gemi hidup tida layak
“ zaman belanda jepang aku sudah ada le, dulu suamiku pejuang kemerdekaan, tapi sekarang sudah tua hidupku menderita, hidup sendiri dan tidak ada yang merawat aku,” - Mbah Gemi. Mbah gemi (105 tahun) usia yang sangat lebih dari kata tua dan lansia,jalannya tertatih tatih, punggung simbah sudah tidak bisa tegak lagi, dan badan yang gemeteran dan tempat tidur yang jauh dar kata layak
simbah hidup sendirian dirumah,bahkan anak beliau sudah meninggal lebih dulu,simbah bilang ingin sekali menyerah tapi mau bagaimana lagi, inilah kenyataannya kehidupan sehari simbah hanya bisa menyelesaikan satu tikar dengan upah 10 - 15 Rupiah, itupun seringnya simbah memilih menukarkan langsung dengan nasi putih saja, karena sudah tidak kuat untuk masak sendiri, “pengen beli obat aja aku gak bisa, tolong aku le , rawat aku” ucap simbah dengan suara lirih sungguh kami tidak tega melihatnya, di sisa umur dan tenaganya simbah masih berkerja setiap hari membuat tikar dari bambu dari pagi sampai siang,karena hanya dengan cara itu beliau menyambung hidup dan setiap hari makan hanya dengan nasi dan garam.
suami simbah dulu adalah pejuang kemerdekaan, di sisa sisa ingatannya, beliau berceriita ketika suaminya berjuang di zaman penjajahan jepang dan juga PKI, suaminya meninggal 30 tahun yang lalu, merdeka, merdeka, ucap simbah
sebagai istri mantan veteran, simbah masih semangat ketika teringat perjuangan kemerdekaan Indonesia tercinta, mungkin simbah dulu hidupnya beda dengan yang sekarang, namun di usia yang seharusnya bisa dinikmati dengan tenang, mbah gemi masih harus berjuang keras mari kita perjuangan kehidupan lebih layak buat simbah di sisa sisa umurnya
