Pundak Sakit, Pak Juhana Tetap Jualan Agar Anak Bisa Makan. Bantu Pak Juhana Berjuang!

Pundak Sakit, Pak Juhana Tetap Jualan Agar Anak Bisa Makan. Bantu Pak Juhana Berjuang!

Rp 12.304.000
terkumpul dari Rp 30.000.000
242 Donatur
30 hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 26 August 2026 12:08 WIB

Penggalang Dana

Ayo Kita Peduli

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

19 August 2026

Pak Juhana, Menjajakan Agar demi Sepiring Nasi dan Harapan Anak-Anaknya Setiap pagi, ketika sebagian orang mulai menjalani aktivitasnya, Pak Juhana sudah lebih dulu bersiap memanggul dagangannya. Bersama anak bungsunya yang masih duduk di kelas 1 SD, ia berkeliling menjajakan agar dari satu tempat ke tempat lainnya. Sudah sekitar lima tahun Pak Juhana menjalani pekerjaan ini. Sebelumnya, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, keadaan membuatnya harus mencari cara lain untuk tetap mendapatkan penghasilan. Kini, berjualan agar menjadi salah satu jalan yang ia tempuh untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Namun, tidak setiap hari Pak Juhana bisa berjualan. Ia hanya dapat berjualan ketika memiliki modal. Keuntungan yang didapat pun biasanya langsung diputar kembali untuk membeli modal dagangan berikutnya. Jika modal benar-benar habis, Pak Juhana harus menunggu panggilan pekerjaan sebagai kuli bangunan agar bisa kembali berjualan. Penghasilannya tidak seberapa. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya pun sering kali masih terasa berat. Karena itu, Pak Juhana juga menyambi sebagai tukang bersih-bersih masjid di dekat rumahnya. Rumah yang ditempati Pak Juhana bersama istri dan ketiga anaknya pun sangat sederhana. Rumah kecil tersebut merupakan rumah wakaf dari masjid. Tetapi tinggal di sana bukan berarti tanpa ujian. Ia pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan, bahkan pernah diminta untuk pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya. Ketika hujan turun, keluarga Pak Juhana juga harus bersiap menghadapi kebocoran. Tembok-tembok rumah yang berlubang membuat air mudah masuk. Bahkan, ketika listrik tidak mampu dibayar karena penghasilan yang terbatas, rumah mereka bisa kembali gelap dan hanya diterangi cahaya lilin. Di tengah segala keterbatasan itu, ada seorang anak kecil yang memilih menemani ayahnya berjualan. Anak bungsu Pak Juhana sering ikut berkeliling. Bukan karena ia tidak punya kegiatan lain, tetapi karena ia ingin membantu ayahnya. Usianya masih sangat kecil. Kakinya pun belum kuat untuk berjalan jauh sepanjang hari. Tak jarang, di tengah perjalanan ia merasa lelah dan mengeluh. Ketika tubuh kecilnya sudah tidak kuat lagi, Pak Juhana akan menggendongnya sambil tetap membawa dagangan. Ada kalanya sang anak tertidur di pangkuan ayahnya karena terlalu lelah setelah seharian berkeliling. Pemandangan itu mungkin sederhana. Namun di baliknya ada perjuangan seorang ayah yang tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan. Pak Juhana bahkan pernah mengalami musibah saat berjualan. Ia pernah terjatuh ke sawah hingga dagangan yang dibawanya ikut jatuh. Hari itu, bukan keuntungan yang dibawa pulang. Dagangannya habis dan ia justru harus menombok kerugian. Ia juga pernah tertipu ketika sedang berjualan sehingga tidak mendapatkan keuntungan sama sekali pada hari tersebut. Meski begitu, Pak Juhana tetap berusaha bangkit. Ia memiliki satu keinginan sederhana: jika suatu hari mendapat rezeki lebih, ia ingin memiliki gerobak untuk berjualan. Selama ini, dagangannya dipanggul berkeliling dan membuat pundaknya sering terasa sakit. Dengan gerobak, ia berharap bisa berjualan dengan lebih ringan dan membawa dagangan lebih banyak. Sebagai seorang ayah, Pak Juhana juga memiliki harapan besar untuk anak-anaknya. Ia ingin dua anaknya dapat bersekolah hingga SMA. Sayangnya, keterbatasan ekonomi membuat ia tidak sanggup terus membiayai pendidikan mereka hingga jenjang tersebut. Sekolah anaknya akhirnya harus terhenti di tingkat SMP. Hari ini, keluarga Pak Juhana masih sangat bergantung pada kebaikan orang-orang di sekitarnya. Bantuan dari masjid dan tetangga menjadi salah satu penopang mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun Pak Juhana tidak meminta untuk hidup berlebihan. Ia hanya ingin terus bekerja. Ia hanya ingin dagangannya kembali memiliki modal. Ia hanya ingin pundaknya tidak lagi terlalu sakit karena memanggul dagangan. Dan yang paling utama, ia ingin anak-anaknya memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. **Di balik setiap bungkus agar yang dipanggul Pak Juhana, ada perjuangan seorang ayah untuk keluarganya.** Mari bantu Pak Juhana agar tidak harus terus berjalan sendirian. Dukungan yang kita berikan dapat menjadi modal untuk kembali berjualan, membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, dan perlahan mewujudkan impiannya memiliki gerobak agar ia bisa berjualan dengan lebih layak. Karena bagi Pak Juhana, sedikit bantuan hari ini bukan sekadar meringankan beban. Bisa jadi, itulah yang membuatnya mampu kembali berjualan esok pagi.


Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.

Doa & Donasi Teman Peduli

Anonim

25 August 2026 22:23
Rp 20.000
Amin
JADI#SirkelBaik

Jualan Sering Tak Laku. Bantu Pak Juhana Bertahan Demi Anak Tak Kelaparan

Ayo Kita Peduli
Telah mengajak 52 orang berdonasi
Rp 5.630.000

Jualan Tak Laku, Bantu Pak Juhana Berjuang Bertahan Hidup

Ayo Kita Peduli
Telah mengajak 21 orang berdonasi
Rp 2.064.000