Menjelang maghrib di sore itu, tawa kecil Agustian (4 tahun) berubah menjadi jeritan kesakitan. Ia yang sedang bermain di dekat bekas bakaran sampah tak menyangka bahwa api yang dikira sudah padam ternyata masih menyala. Dalam sekejap, api menyambar pakaian dan tubuh kecilnya. Dagu, leher, lengan, hingga dada dan perut Agustian mengalami luka bakar yang begitu perih. Tangisnya pecah, tubuh mungil itu tak henti menahan rasa sakit yang luar biasa. Kini, rasa perih itu masih terus ia rasakan setiap hari. Agustian sering menangis dan rewel karena luka bakarnya belum sembuh. Bahkan, ia menjadi trauma dan ketakutan setiap kali harus dibawa ke dokter untuk berobat. Selama 3 hari, Agustian telah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun perjuangannya belum selesai. Ia masih harus menjalani kontrol rutin dan kemungkinan tindakan operasi debridemen, yaitu pengangkatan jaringan kulit mati di ruang operasi agar lukanya bisa pulih dengan baik. Di tengah kondisi itu, cobaan lain justru datang dari dalam keluarganya. Ayah Agustian saat ini sedang berjuang melawan gagal ginjal yang dideritanya. Ia harus menjalani cuci darah secara rutin dan sering kali membutuhkan transfusi darah karena kondisi tubuhnya yang lemah. Dulu, ayah Agustian bekerja sebagai kuli dengan penghasilan sederhana untuk menghidupi keluarga. Namun kini, ia tidak lagi mampu bekerja karena penyakit yang dideritanya. Bahkan untuk berobat pun sering kali harus tertunda karena tidak adanya biaya. Sementara itu, kebutuhan pengobatan Agustian terus berjalan. Biaya ambulans untuk sekali kontrol saja bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp700.000 karena jarak rumah ke rumah sakit yang cukup jauh. Belum lagi kebutuhan salep luka yang harus digunakan rutin setiap minggu, serta kemungkinan biaya operasi yang mencapai puluhan juta rupiah. Di rumah, seorang ibu harus menanggung semuanya seorang diri. Ia merawat suami yang sakit, sekaligus menjaga Agustian yang terus menangis menahan perih. Hatinya hancur melihat dua orang yang ia cintai sama-sama berjuang melawan sakit, sementara kondisi ekonomi keluarga semakin terpuruk. Sering kali, mereka harus meminjam kepada tetangga hanya untuk sekadar makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah segala keterbatasan ini, harapan mereka hanya satu: bisa sembuh dan kembali menjalani hidup dengan lebih baik. Sahabat Kebaikan, di saat kita bisa beraktivitas dengan nyaman, Agustian harus berjuang menahan sakit di usia yang masih sangat kecil. Ia membutuhkan uluran tangan kita agar bisa mendapatkan pengobatan yang layak dan kesempatan untuk sembuh. Maukah kita membantu Agustian agar ia bisa melewati masa sulit ini, sembuh dari luka bakarnya, dan kembali tersenyum seperti anak-anak lainnya?
