Sandi tak pernah benar-benar merasakan masa kecil seperti anak lainnya. Tubuhnya lemah, sering kaku akibat cerebral palsy dan epilepsi yang dideritanya sejak kecil.
Di sampingnya, selalu ada Ibu Eni. Seorang ibu yang tak kenal lelah, meski hidup dalam keterbatasan. Sejak sang suami tiada, ia berjuang sendiri demi anaknya.
Untuk makan saja, mereka harus berjuang. Dari hasil ngemute baju, Ibu Eni hanya membawa pulang sekitar 10–15 ribu rupiah per hari. Tak jarang, itu pun tak cukup.
Sandi hanya makan nasi dengan garam. Tanpa gizi, tanpa nutrisi yang layak. Sementara di sisi lain, ia sangat membutuhkan terapi agar tubuhnya tidak semakin kaku.
Namun, biaya membuat semuanya terasa mustahil.
Meski begitu, Ibu Eni tak pernah berhenti berusaha. Ia tetap bekerja, tetap bertahan, demi satu harapan melihat Sandi hidup lebih baik.
Kini, kita bisa membantu mewujudkan harapan itu.