Sejak usia 1,5 tahun, Daffa sudah harus belajar arti kehilangan. Sang ayah pergi tanpa kabar, meninggalkan Daffa dan ibunya dalam keterbatasan. Kini, di usia 10 tahun, Daffa tinggal bersama sang nenek, Bu Apsah, sementara ibunya harus merantau jauh demi mencari nafkah yang seringkali masih jauh dari cukup.

Daffa adalah anak yang ceria, tapi dunianya sunyi. Ia hanya bisa berkomunikasi lewat isyarat sederhana. Bu Apsah sudah mengusahakan segalanya, bahkan menjual harta benda yang tersisa agar Daffa bisa diperiksa dokter. Kabar baiknya: Daffa masih bisa mendengar jika menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD).
Namun, kabar pahitnya: Harga alat tersebut mencapai puluhan juta rupiah. Sebuah angka yang terasa mustahil bagi Bu Apsah yang hanya mengandalkan untung yang tidak menentu dari jualan nasi uduk dan gorengan.

Meski dalam keterbatasan, Daffa adalah anak yang sangat luar biasa. Saat Bu Apsah sakit, Daffa-lah yang sibuk mencari tukang urut dan memijat neneknya. Ia tak pernah malu menemani neneknya berjualan setiap hari. Namun, seringkali Daffa pulang sambil menangis karena merasa minder diejek teman-temannya yang bisa mendengar dengan normal.
Sahabat Kebaikan, Bu Apsah tidak bisa berjuang sendirian. Tabungan dari nasi uduk seringkali habis untuk makan sehari-hari. Kita bisa jadi jawaban dari doa-doa Bu Apsah setiap malam.

Mari kita wujudkan impian Daffa untuk mendengar suara Neneknya dengan jelas. Setiap rupiah yang kamu sisihkan, adalah langkah besar bagi masa depan Daffa.