Albie baru berusia 13 tahun. Di usia ketika anak-anak seusianya duduk di bangku SMP, belajar, bercanda, dan bermimpi, Albie justru sudah memikul tanggung jawab yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup menjalaninya.

Albie adalah anak kedua dari lima bersaudara. Seharusnya sekarang ia duduk di kelas 1 SMP. Namun sejak kelas 5 SD, Albie terpaksa berhenti sekolah. Bukan karena malas, bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena ia harus memastikan adik-adiknya tetap bisa makan dan sekolah. Tunggakan sekolah sebesar Rp900.000 menjadi titik akhir pendidikannya.

Sejak putus sekolah, Albie berjualan donat milik tetangganya setiap hari. Ia mulai berkeliling dari pukul 06.30 pagi hingga sore, bahkan tak jarang pulang hingga pukul 7 malam karena dagangannya belum habis. Satu donat dijual seharga Rp2.000, namun keuntungan yang Albie dapatkan hanya Rp500 per buah. Jika donatnya tak laku, ia dimarahi. Jika terlalu sedikit yang terjual, ia juga dimarahi. Kadang, ia hanya bisa memakan donat dagangannya sendiri untuk menahan lapar.
Penghasilannya tak menentu, rata-rata hanya Rp20.000–30.000 per hari. Dari jumlah itu, sering kali Albie hanya kebagian Rp10.000 untuk dirinya sendiri. Untuk makan, ia harus berhemat. Bahkan tak jarang ia menahan lapar dan hanya minum air itu pun jika ia punya uang untuk membeli air minum. Albie bahkan tidak memiliki botol minum sendiri.

Karena berjualan donat saja tidak cukup, Albie pernah bekerja sebagai buruh cuci piring di tukang ketoprak, dari pukul 10 pagi hingga 5 sore dengan upah Rp35.000. Kini, ia juga membantu berjualan cuangki: menyiapkan lapak, mencuci piring, mengantar pesanan, hingga membuatkan kopi.
Namun beban Albie tak berhenti pada dirinya sendiri. Setiap hari, ia bertanggung jawab memberi bekal Rp5.000 untuk dua adiknya yang berusia 5 dan 10 tahun, serta membeli susu untuk adiknya yang masih berusia 2 tahun. Meski hidup terpisah, Albie juga tetap membantu kebutuhan sekolah adiknya yang lain agar tidak putus sekolah seperti dirinya.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hallo,Sobat Berdampak!
Setiap kebaikan yang diberikan, sekecil apa pun, selalu memiliki arti bagi mereka yang membutuhkan.
Melalui program The Power Of Kindness, Ayo Kita Peduli bersama Sobat Berdampak terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan kehidupan.
Pada kesempatan ini, bantuan telah disalurkan kepada penerima manfaat berupa santunan tunai,kebutuhan pokok, dan tambahan modal usahasebagai bentuk dukungan dan kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Kebaikan yang Sobat Berdampak titipkan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan, tetapi juga menjadi penguat semangat, harapan, dan kebahagiaan bagi para penerima manfaat.
Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini. Semoga setiap langkah yang kita lakukan bersama dapat terus menghadirkan manfaat dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang dibagikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menjadi keberkahan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli