Di usia 12 tahun, Bagas menghabiskan waktu sepulang sekolah hingga malam untuk berjualan makaroni keliling. Ia melakukan itu bukan untuk jajan, melainkan agar tetap bisa sekolah dan membantu orang tuanya membayar kebutuhan keluarga serta kontrakan.
Penghasilan jualannya sering kali sangat sedikit. Bagas bahkan pernah pulang hanya dengan hasil dua bungkus makaroni terjual, menahan lapar, berjalan kaki, dan tetap berjualan meski hujan. Seragam serta sepatunya pun sudah rusak dan belum bisa diganti.
Meski sering dihina dan mengalami kesulitan, Bagas tetap semangat mengejar cita-citanya menjadi TNI. Mari bantu perjuangan Bagas untuk terus bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.