“Bayi kami tak bisa buang air besar seperti anak lainnya… Dia harus BAB lewat perut.”
Ridzwan, bayi kecil yang lahir tanpa lubang anus, kini bertahan hidup dengan bantuan alat buang kotoran yang menempel di perutnya. Sejak lahir, dua kali operasi telah dijalani, namun ususnya masih harus dikeluarkan dari tubuh untuk membantu pengeluaran BAB.


Saat ini, Ridzwan harus menjalani operasi lanjutan di RSHS Bandung. Tapi langkah itu tertahan—bukan karena medis, tapi karena ongkos. Ayahnya hanya pedagang dawet dan donat, dengan penghasilan tak sampai 30 ribu rupiah sehari setelah dipotong modal.
Lebih memilukan, kakak Ridzwan yang berusia 7 tahun pun mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan belum bisa bicara atau berjalan.
Di rumah sempit yang dihuni 8 orang, kakeknya yang sudah renta masih memulung demi menyambung hidup.


Orang tua Ridzwan hanya ingin anaknya bisa tumbuh normal, agar tidak malu, agar tak dikucilkan oleh lingkungan saat besar nanti.
Mari bantu perjuangan kecil ini. Bantu agar Ridzwan bisa memiliki lubang anus dan hidup tanpa rasa malu. Setiap rupiah dari kamu sangat berarti.
Temen-temen, jangan biarkan Dek Ridzwan menahan kesakitan sendirian. Yuk bantu Dek Ridzwan agar bisa berobat!

Alhamdulillah, Ridzwan, penerima manfaat medis anak yang sejak lahir mengidap atresia ani, telah menjalani operasi tahap pertama. Namun saat ini kondisinya masih memerlukan perhatian intensif. Pasca operasi, Ridzwan justru mengalami buang air besar yang semakin sering, mencret, serta disertai demam dan flu.
Penyaluran donasi telah diberikan berupa popok, susu, kantong kolostomi, serta uang tunai yang digunakan untuk menunjang transportasi dan akomodasi selama proses pengobatan dan perawatan. Bantuan ini sangat berarti bagi Ridzwan dan keluarganya dalam menghadapi proses pemulihan yang masih panjang.
Kami mohon doa terbaik dari orang-orang baik, semoga Ridzwan segera diberi kekuatan, kondisi kesehatannya membaik, dan proses pengobatan selanjutnya berjalan lancar 🤲
Terima kasih atas kepercayaan dan kepedulian yang terus mengalir.