Tiga tahun sejak kepergian sang ayah, hidup Isnaini Nurpansa (12th) berubah drastis. Tak ada lagi waktu untuk bermain, karena sepulang sekolah ia harus memikul tampah kerupuk elod untuk berkeliling kampung. Isnaini terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena Ibu Juanah, satu-satunya orang tua yang ia miliki, kini sering jatuh sakit akibat penyakit lambung kronis dan tak lagi mampu bekerja mencari rongsok.

Kondisi tempat tinggal mereka pun sangat memprihatinkan. Mereka bertahan di sebuah gubuk rapuh yang dindingnya sudah bolong dan harus disangga bambu agar tidak ambruk. Setiap kali hujan deras mengguyur, Isnaini dan ibunya harus berlari keluar mencari perlindungan di rumah tetangga. Rasa takut akan rumah yang roboh menimpa mereka selalu menghantui tiap malam, membuat istirahat mereka jauh dari kata tenang.

Dengan penghasilan paling banyak Rp20.000 sehari, jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari dan membeli obat ibu saja seringkali tidak cukup. Isnaini seringkali menahan tangis saat melihat dagangannya tak laku, namun ia menolak menyerah. "Aku nggak mau ibu pergi meninggalkan aku seperti ayah," ucapnya lirih. Kegigihan bocah SMP ini adalah bentuk pengabdian luar biasa di tengah kemiskinan yang menjepit.

Sahabat, Isnaini adalah potret anak tangguh yang butuh uluran tangan kita. Mari bersama-sama kita ringankan bebannya dengan membantu biaya pengobatan sang ibu dan merenovasi rumah mereka agar layak dihuni. Jangan biarkan Isnaini berjuang sendirian di tengah kerentanan ini. Setiap donasi yang Anda berikan adalah harapan baru bagi Isnaini untuk menggapai cita-citanya tanpa rasa takut akan kehilangan rumah dan ibunya.
Yuk kita bersedkah bantu sesama yang kekurangan dan membutuhkan, bantu perjuangannya dengan berdonasi. Kalian dapat berdonasi dengan cara :
1. Klik “Donasi Sekarang;
2. Masukan nominal donasinya;
3. Pilih metode pembayaran;
4. Dapatkan laporan via email.