DITINGGAL KEDUA ORANGTUA! Rizky Dan Ika Terpaksa Berjualan Kerupuk Untuk Bertahan Hidup
DITINGGAL KEDUA ORANGTUA! Rizky Dan Ika Terpaksa Berjualan Kerupuk Untuk Bertahan Hidup

DITINGGAL KEDUA ORANGTUA! Rizky Dan Ika Terpaksa Berjualan Kerupuk Untuk Bertahan Hidup

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
0
Tercapai
0%
Sisa waktu
41 hari

Diperbarui 16 October 2026, 03:00 WIB

Penggalang Dana

Yayasan Kolaborasi Teman Baik
Lembaga resmi terverifikasi

Cerita

15 October 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Sejak usia 5 tahun, Iki dan Ika harus kehilangan sosok ayah yang menjadi tempat mereka bergantung. Sang ayah meninggal dunia setelah sakit, sementara sang ibu memilih untuk menikah lagi.

Sejak saat itu, Iki dan Ika hanya tinggal berdua. Keduanya kemudian ditemani oleh sang nenek yang menjadi satu-satunya tempat mereka pulang dan saling menjaga. Namun, ujian kembali datang. Sang nenek mengalami stroke dan membuat aktivitas sehari-harinya sangat terbatas. Iki dan Ika pun harus bergantian merawat sang nenek. Bahkan, tak jarang mereka harus bergantian masuk sekolah karena salah satu dari mereka harus tetap tinggal di rumah untuk menjaga nenek. Sampai suatu hari, ketika Iki sedang pergi berjualan, musibah terjadi. Sang nenek terjatuh di dapur dan dalam kondisi kritis. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu sampai Iki pulang ke rumah. Melihat neneknya tergeletak tak berdaya tentu menjadi pukulan yang sangat berat bagi Iki dan Ika. Sejak kejadian itu, kondisi sang nenek semakin memburuk. Iki bahkan harus mengambil cuti sekolah ketika duduk di kelas 3 SMP, padahal tinggal selangkah lagi menghadapi ujian akhir. Keinginannya untuk menyelesaikan sekolah harus ia kesampingkan demi merawat satu-satunya orang yang selama ini menemani mereka. Namun, takdir berkata lain. Tak lama kemudian, sang nenek menyusul kepergian ayah mereka. Kini, rumah itu hanya dihuni oleh Iki dan Ika. Dua kakak beradik yang sejak kecil sudah dipaksa keadaan untuk belajar mandiri dan saling menguatkan.

Untuk makan sehari-hari, terkadang mereka mendapat bantuan dari saudara dari pihak ayah. Selebihnya, mereka mencoba mencukupi kebutuhan dari hasil berjualan makanan ringan dan kerupuk. Penghasilannya memang tidak seberapa, tetapi bagi Iki dan Ika, selama masih bisa makan dan menjalani hari, mereka akan tetap berusaha.

Ketika tim kami bertanya, hal apa yang paling membuat mereka merasa iri kepada orang lain, jawaban Iki begitu sederhana, tapi terasa begitu dalam. "Kalau hari kelulusan, orang lain diambil rapot sama ayahnya, kita sama saudara. Terus kalau hari raya Idul Fitri... itu sih yang bikin iri, Kak." Mungkin bagi sebagian orang, berkumpul bersama keluarga saat lebaran adalah hal biasa. Tapi bagi Iki dan Ika, momen itu justru mengingatkan mereka pada sosok ayah yang sudah tidak ada. Kini mereka tinggal berdua di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya banyak yang bocor, dan beberapa bagian rumah sudah tidak layak. Namun Iki tidak meminta banyak. Cita-citanya sederhana. Ia hanya ingin memiliki rumah yang layak, tempat ia dan Ika bisa tinggal dengan aman dan tidak lagi khawatir ketika hujan turun. Mereka sudah kehilangan ayah. Mereka juga sudah kehilangan nenek yang selama ini menjaga mereka. Kini, yang mereka punya hanyalah satu sama lain. Yuk, bantu Iki dan Ika agar mereka tidak harus terus berjuang sendirian. Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi harapan untuk kehidupan yang lebih layak bagi mereka. Salurkan dukungan terbaikmu melalui temenbaik.com.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.

Jadi #SirkelBaik

Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.

Gabung