Diperbarui 22 October 2026, 15:00 WIB
Hidup Sebatang Kara, Pak Suprihatin Jualan Pisang Meski Sering Pulang Tanpa Uang
Di usia 62 tahun, Pak Suprihatin harus berjuang sendirian di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi. Ia tinggal di rumah kayu kumuh yang jauh dari kata layak. Setiap hari, Pak Suprihatin memikul pisang untuk dijual keliling kampung demi mendapatkan uang untuk makan.
Namun, perjuangannya tidak mudah. Kondisi wajah dan jari-jemarinya yang cacat permanen membuat banyak orang takut dan enggan mendekat. Tak jarang, dagangan Pak Suprihatin tidak laku hingga ia harus pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Saat kelaparan, ia hanya bisa mengandalkan belas kasihan orang sekitar atau sisa makanan dari tetangganya.
Kondisi fisiknya juga membuatnya kesulitan saat membawa beban pisang yang berat. Tak jarang, ia sampai tersungkur karena tak sanggup lagi menopang beban tersebut. Di tengah kesendirian, Pak Suprihatin tetap berusaha bertahan hidup meski harus menghadapi rasa lapar dan penolakan dari orang lain.
Pak Suprihatin sebenarnya memiliki harapan sederhana. Ia ingin mempunyai lapak pisang kecil di pinggir jalan agar tak perlu lagi berkeliling kampung setiap hari. Dengan lapak sederhana, ia berharap bisa berjualan dengan lebih mudah dan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan makan.
Yuk, Orang Baik, bantu wujudkan harapan Pak Suprihatin. Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi modal usaha agar ia memiliki lapak sendiri dan tak lagi harus berjuang sendirian demi sesuap nasi.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung