Di tengah kerasnya hidup, Pak Bahru dan Bu Oneng tetap bertahan mencari nafkah meski keduanya hidup dalam keterbatasan penglihatan. Dengan tongkat di tangan, mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain menjajakan kerupuk demi bisa membawa pulang sedikit uang untuk keluarga. Kadang seharian berjualan, penghasilan yang didapat bahkan tak cukup untuk ongkos pulang.
Di kontrakan kecil sederhana, mereka hidup bersama Yuda, anak bungsu mereka yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Yuda adalah anak yang kuat. Sejak kecil ia terbiasa menuntun ibunya berjalan, membantu orang tuanya beraktivitas, hingga menahan sedih saat diejek teman-temannya karena kondisi ayah dan ibunya yang tunanetra.
Meski hidup serba kekurangan, Yuda tetap punya mimpi besar. Ia bercita-cita menjadi pemain sepak bola dan sangat mengidolakan Beckham Putra dari Persib. Kaos Persib kesayangannya sudah berlubang dan dijahit sendiri, tapi tetap ia pakai hampir setiap hari karena itulah satu-satunya yang ia punya.
Kini kondisi sekolah Yuda sangat memprihatinkan. Tas dan sepatunya sudah rusak, seragamnya sempit dan merupakan pemberian tetangga, bahkan ada tunggakan biaya madrasah sebesar Rp600.000 yang belum mampu dibayar orang tuanya.
Untuk makan sehari-hari pun keluarga ini harus bertahan dengan sangat sederhana. Terkadang mereka hanya makan nasi dengan kerupuk, bahkan satu piring nasi goreng dibagi bertiga agar tetap bisa bertahan hidup.
Sahabat baik, di balik segala keterbatasan ini, Pak Bahru dan Bu Oneng hanya punya satu harapan besar: melihat Yuda bisa terus sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti bagi keluarga ini.
Yuk, bantu Yuda tetap sekolah dan bantu kedua orang tuanya menjalani hidup dengan lebih layak.
Bantu dengan cara :