Di saat sebagian besar orang baru bersiap memulai aktivitas di pagi hari, Abah Cucu (76 tahun) sudah lebih dulu berpacu dengan waktu. Dengan topi usang yang menutupi rambut putihnya, beliau mendorong gerobak tua beroda dua, menyusuri gang-gang kecil kampung demi memungut botol plastik, kardus bekas, hingga kaleng penyok.

Sejak sang istri meninggal dunia, Abah tinggal sebatang kara di sebuah rumah kecil berdinding kayu di ujung gang. Meski hidup sendirian, Abah Cucu menolak untuk mengemis. Beliau memilih mengais rezeki dari sisa-sisa barang bekas yang dibuang orang lain dengan penuh kejujuran dan ketulusan.
Perjuangan Abah Cucu menyusuri jalanan dari pagi hingga petang kerap kali tidak sebanding dengan hasil yang dibawanya pulang. Penghasilan dari menjual barang rongsokan ke pengepul sangat tidak menentu—kadang hanya Rp10.000, paling banyak Rp20.000 per hari.
"Yang penting halal dan bisa buat makan," tutur Abah Cucu dengan senyum ikhlas di wajahnya.
Namun, fisiknya di usia 76 tahun kini tidak lagi bisa diajak kompromi. Setiap kali mendorong gerobak tua yang berat, pinggang dan kaki Abah Cucu sering kali terasa amat nyeri dan ngilu. Rasa sakit itu kini datang semakin sering, membuat tubuh tuanya gemetar dan terpaksa harus sering berhenti di pinggir jalan hanya untuk meredakan nyeri yang menyiksa.

Warga sekitar sangat menghormati kegigihan dan kerendahan hati Abah Cucu. Namun, di balik ketegarannya, Abah menyadari bahwa tubuh tuanya sudah tidak sanggup lagi mengarungi jalanan.
Abah Cucu memiliki satu harapan terakhir di sisa usianya. Beliau sangat ingin berhenti menjadi pemulung sampah karena kondisi kesehatan dan usianya yang sudah tidak mendukung. Abah sangat mendambakan modal usaha rumahan mandiri, agar beliau bisa terus mencari rezeki yang halal dari rumah tanpa harus menyiksa fisik dan menahan sakit di jalanan lagi.
#OrangBaik, kejujuran dan rasa syukur Abah Cucu adalah contoh nyata keteguhan hati seorang lansia. Di masa tuanya, mari kita bentangkan tangan untuk memberikan kehidupan yang lebih tenang, sejahtera, dan bebas dari rasa sakit di jalanan.
Kami dari Yayasan Jejak Binar Harapan mengajak Anda semua untuk bersama-sama membantu mewujudkan modal usaha rumahan mandiri serta memenuhi kebutuhan pokok harian Abah Cucu.