Di sebuah gang sempit yang nyaris tak pernah disentuh cahaya matahari, tinggal seorang nenek tua bernama Mak Ene. Usianya sudah 82 tahun. Tubuhnya kecil dan rapuh, rambutnya memutih seluruhnya, dan matanya mulai kabur dimakan usia. Ia hidup sendiri di kontrakan satu petak . Tak ada anak. Tak ada suami. Tak ada keluarga yang menemani hari-harinya.
Dengan napas berat dan tubuh gemetar, ia merapikan sayur-sayur titipan milik orang lain. Bukan miliknya sendiri. Ia hanya membantu menjualkan. Dari setiap ikat sayur, Mak Ene hanya mendapat seribu rupiah. Itupun kalo laku dengan uang itu bahkan tak cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana.
Namun hidup Mak Ene semakin berat sejak sebuah musibah kecil mengubah segalanya. Suatu malam, ketika hendak masuk ke kontrakannya, kakinya tersayat seng tajam di pintu yang sudah berkarat. Luka itu dalam. Karena tak punya uang berobat, luka di kaki Mak Ene membengkak dan sulit sembuh. Kini ia hampir tak bisa berjalan dan harus ngesot.
Tapi perut tidak pernah mau menunggu luka sembuh. Dengan kaki yang terus nyeri, Mak Ene tetap memaksa berjualan. Ia menyeret kakinya perlahan di jalan kecil depan kontrakan. Di bawah pahanya, ia meletakkan kardus bekas agar kulitnya tidak terlalu sakit saat bergeser di lantai. Setiap dorongan tubuhnya adalah perjuangan.
Orang-orang kadang melihatnya iba. Sebagian hanya lewat begitu saja. Mak Ene tak pernah mengeluh panjang. Saat ditanya kenapa masih berjualan dalam keadaan seperti itu, ia hanya tersenyum pelan.
“Kalau nggak jualan… Mak makan apa, Nak?”
Kalimat sederhana itu terdengar begitu menusuk. Di dalam kontrakannya, hanya ada tikar tipis, panci kecil yang mulai hitam, dan beberapa baju lusuh tergantung di dinding. Kadang Mak Ene makan nasi dengan garam. Kadang hanya minum air hangat sambil menahan lapar sampai tertidur. Namun di balik semua kesulitannya, Mak Ene masih menyimpan harapan kecil.
Ia ingin punya modal usaha sendiri. Tidak besar. Ia hanya ingin bisa membeli sayur sendiri agar hasil jualannya tidak habis untuk setoran. Ia ingin punya gerobak kecil agar tidak perlu menyeret tubuhnya lagi. Ia ingin makan tanpa harus menghitung sisa uang receh di tangannya. Dan yang paling ia inginkan sebenarnya sederhana:
“Mak cuma pengen hidup nggak jadi beban… sampai Allah panggil.”
Kadang dunia terlalu sibuk sampai lupa melihat orang-orang seperti Mak Ene. Padahal di sudut gang sempit itu, ada seorang nenek renta yang setiap hari sedang bertarung melawan lapar, luka, dan kesepian sendirian.
