ISAK TANGIS PEMULUNG BERTUMOR! Abah Adang Berjuang Cari Nafkah Dengan Kondisi Tumor Yang Kian Membesar
ISAK TANGIS PEMULUNG BERTUMOR! Abah Adang Berjuang Cari Nafkah Dengan Kondisi Tumor Yang Kian Membesar

ISAK TANGIS PEMULUNG BERTUMOR! Abah Adang Berjuang Cari Nafkah Dengan Kondisi Tumor Yang Kian Membesar

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
0
Tercapai
0%
Sisa waktu
41 hari

Diperbarui 30 September 2026, 03:00 WIB

Penggalang Dana

explorebumibaik
Lembaga resmi terverifikasi

Cerita

29 September 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

"Hampura Bapak, Neng… Sing sabarnya, Neng... hampura Bapak. Mudah-mudahan aya rezekina buat sekolah." - Abah Adang Dengan suara bergetar dan air mata yang tak lagi mampu dibendung, Abah Adang (50 tahun) memeluk erat putri remajanya, Atika (15 tahun). Hati ayah mana yang tidak hancur melihat anaknya terpaksa mengubur dalam-dalam mimpi untuk belajar di kelas. Karena kemiskinan yang mencekik, Atika harus putus sekolah sejak SD dan ikut turun ke jalan membantu bapaknya memulung.

Setiap hari, Abah Adang memaksakan diri berjalan tertatih menempuh jarak puluhan kilometer mencari rongsokan. Perjuangan itu terasa semakin menyiksa karena di kaki kirinya bersarang benjolan tumor yang ukurannya kini sudah membesar luar biasa. Beban di kakinya itu membuat Abah sering kali pincang dan kesulitan melangkah. Namun, rasa sakit dari tumor raksasa itu seolah tak ia hiraukan. Baginya, penderitaan yang paling menyayat hati bukanlah penyakit fisiknya, melainkan ketidakmampuannya menyekolahkan Atika.

Dari seharian memilah botol plastik dan rongsokan dengan tubuh rentanya, Abah sering kali hanya mendapat upah 15 hingga 20 ribu rupiah. Jangankan untuk memeriksakan kakinya ke rumah sakit apakah tumor itu ganas atau tidak, untuk sekadar makan sekeluarga saja mereka sering kebingungan. Sang istri, Ibu Sukaraih, sesekali membantu dengan menjadi asisten rumah tangga panggilan berupah 35 sampai 50 ribu rupiah. Sayangnya, panggilan bekerja itu sangat jarang datang. Keterbatasan ekonomi inilah yang membuat Atika mengalah pada kerasnya hidup. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan bangku sekolah. "Mau sekolah mah, cuma kan takut nggak ada buat beli bukunya," ucap Atika menunduk sedih. Ia sadar betul bapaknya memaksakan diri bekerja keras menahan sakit dengan kaki yang membengkak hebat. Beban keluarga ini semakin terasa berat saat anak bungsu mereka, Citra (8 tahun), sering pulang sambil menangis dan memeluk Abah karena tak tahan diejek miskin oleh teman-temannya. Namun, rentetan hinaan dan tubuh yang kian rapuh tak pernah membuat Abah Adang berhenti melangkah demi keluarganya. #TemanExplore, mari kita wujudkan doa tulus Abah Adang menjadi sebuah harapan baru. Jangan biarkan kemiskinan mengubur cita-cita Atika selamanya. Sekecil apa pun donasi dari Anda akan sangat membantu Atika untuk kembali bersekolah, memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Disclaimer: Rencana hasil penggalangan donasi ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Atika Dan kebutuhan Abah Adang dan keluarga . Selain itu, akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya yang berada di bawah naungan Yayasan Jelajah Kebaikan Bumi.


Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.

Jadi #SirkelBaik

Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.

Gabung