Kakinya Terlindas Truk, Tapi Semangat Abah Rukmana Tak Pernah Patah
Jalanan licin, hujan belum reda, justru di tengah kondisi itu Abah Rukmana masih membawa karung berisi pepaya sambil bertumpu pada satu kaki. Tongkatnya hampir goyah,ia me;angkah pelan. Bukan karena ia tak kuat, tapi karena kaki kanannya sudah diamputasi setelah kecelakaan tragis yang merubah seluruh hidupnya.
Kecelakaan itu terjadi saat Abah mencoba menyelip di ruang sempit antara mobil dan truk Batubara. Motor di depan berhasil masuk ke bahu jalan… tapi Abah tidak seberuntung itu. Ia terjepit, kaki kanannya terlindas keras hingga hancur. Di rumah sakit, dokter menyarankan amputasi penuh, tapi Abah memohon kakinya disisakan agar ia masih punya harapan memakai kaki palsu. Kini, kakinya hanya tersisa sampai paha, dan tongkat adalah satu-satunya penyangga hidupnya.
Musim hujan jadi mimpi buruk buat Abah. Jalanan licin bikin tongkat mudah selip, dan sering banget Abah jatuh bareng pepaya dagangannya. Setiap kali ia terjatuh, buah-buah itu pecah, remuk, ga layak jual lagi, artinya… ia pulang menanggung rugi.
Di rumah, ada keluarga yang menunggu. Mereka ga punya siapa-siapa selain Abah. Semua bergantung pada satu kaki Abah yang tersisa dan keberaniannya berkeliling jualan meskipun hujan. Melihat Abah memaksa diri berjalan dengan tongkat sambil mikul karung buah, rasanya kayak ngeliat kepala keluarga yang tetap kuat walau hidupnya digilas keadaan.
Kerabat, di tengah perjuangannya yang berat, Abah butuh kita. Yuk bantu perjuangan Abah Rukmana supaya ia tetap bisa mencari nafkah dengan layak, tanpa harus mempertaruhkan hidupnya lagi di jalanan licin. Sedikit dari kita, bisa jadi penyambung hidup untuk keluarganya.
