Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, Nek Ade harus bertaruh nyawa berjualan kerupuk di jalanan dengan kondisi fisik yang kian merapuh. Ia menderita penyakit lambung kronis parah yang seringkali memicu rasa mual hebat hingga ia memuntahkan kembali setiap makanan yang masuk ke tubuhnya. Tak hanya itu, akibat jatuh tersungkur saat berjualan lima tahun lalu, tulang punggungnya kini membungkuk dan terus terasa nyeri yang menusuk. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu membeli obat yang layak, sehingga saat penyakit lambungnya kambuh di jalanan, Nek Ade hanya bisa menahan perih dengan meminta seteguk air hangat dari pedagang sekitar atau mengandalkan obat warung seadanya.
Sejak selesai shalat subuh hingga pukul 5 sore, ia harus berjalan kaki memikul kerupuk milik orang lain dengan kondisi mata juling yang membuatnya kesulitan melihat jalan dengan jelas. Dari setiap kerupuk yang terjual, ia hanya mengambil keuntungan Rp500 hingga Rp1.000, dengan penghasilan harian maksimal hanya Rp20.000. Jika sedang sepi pembeli, Nek Ade terpaksa memilih puasa menahan lapar seharian atau terpaksa memakan kerupuk dagangannya sendiri demi mengganjal perutnya yang kosong, meskipun ia tahu hal itu akan membuat lambungnya kian meradang.
Nek Ade pernah menjadi korban hipnotis oleh orang jahat yang berpura-pura baik ingin mengantarkannya pulang. Tragisnya, orang tersebut justru merampas seluruh kerupuk dan dompetnya yang berisi uang setoran sebesar Rp1.000.000 lebih. Akibat kejadian itu, Nek Ade terpaksa menanggung utang dan menggantinya dengan uang pribadinya sendiri yang entah harus dicari dari mana. Di sisi lain, hatinya hancur saat orang-orang sekitar mencibir dan menuduh anak-anaknya menelantarkannya. Padahal, anak-anaknya pun hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan Nek Ade hanya tidak ingin menjadi beban bagi mereka.
Nek Ade tidak pernah menyerah pada takdir yang menjepitnya. Ia memendam mimpi yang sangat bersahaja: ia ingin memiliki modal untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah agar tubuh bungkuknya tidak perlu lagi memikul beban berat di jalanan, dan ia bisa berobat secara layak untuk menyembuhkan lambungnya.
Mari kita basuh air mata Nek Ade dan ringankan rasa sakit yang dideritanya di sisa usianya. Donasi dari Anda adalah pelindung bagi Nek Ade dari kerasnya jalanan. Klik tombol donasi sekarang untuk menghadirkan keajaiban bagi Nek Ade.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama