Ibu Dede Yuningsih, usia 57 tahun, mengidap Tumor sejak tahun 2022.
Awalnya ibu Dede memiliki benjolan kecil hampir diseluruh tubuhnya yang memang katanya sudah tidak bisa diobati, namun pada tahun 2022 benjolan dibagian samping kepalanya kian hari kian membesar disertai nyeri yang tidak biasa.
Dari sebesar kelereng menjadi sebesar telur ayam Ibu Dede tidak pernah mengeluhkan kondisi tersebut kepada anak satu-satunya, sebab dengan sekolahnya terhenti di bangku SMP kelas 2 karena tidak ada biaya saja sudah menjadi beban moral untuk ibu Dede dan tidak ingin membenani fikiran anak satu-satuya yang seharusnya menikmati masa remaja dan masa belajar seperti anak yang lainnya.
Benjolan dikepalanya terus membesar hingga akhirnya sebesar bola kecil Ibu Dede dibantu warga setempat untuk berobat kurang lebih selama 1 tahun mulai dari puskesmas setempat hingga ke Rumah Daerah yang mana akhirnya dilakukan tindakan operasi pengangkatan benjolan tersebut di tahun 2023 seberat 5kg.
Naas perjuangan warga setempat hanya mampu sampai tindakan tersebut karena sudah tidak ada kas warga yang bisa lagi digunakan untuk membantu pengobatan ibu Dede terlebih saat itu harus dirujuk ke RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung untuk dilakukan kemoterapi.
Tak memiliki biaya untuk pergi berobat hingga tumornya belatung dan berbau busuk, bu Dede hanya bisa menunggu sang anak pulang berjualan bahkan hanya untuk sekedar bisa makan.
Kian hari tumornya semakin parah karena kurangnya kontrol terhadap penyakitnya akibat keterbatasan ekonomi, domisili yang jauh dari kota besar membuat ongkos berobat sangat tinggi “biaya RS udah gratis tapi ongkosnya besar, saya nggak punya”
Saat ini keluhan Ibu Dede seringkali merasakan sakit dibagian kepala, seringkali merasakan pusing, air nanah keluar secara terus menerus, hilangnya nafsu makan karena bau busuk yang sudah menyengat dan saat ini sudah dipenuhi belatung sehingga harus segera dilakukan penaganan lebih intensif di Rumah Sakit Provinsi jika tidak akan membahayakan terhadap nyawa ibu Dede.
Namun apa daya! Tanpa kata sang suami sudah lama meninggalkan bu Dede dan sang anak sejak lahir tanpa tanggung jawab memaksa Bu Dede menjadi tulang punggung menjadi buruh tani dan penjual kopi seduh saat sehat, penghasilannya tak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-hari, dengan kondisinya kini hanya sang anak yang menjadi tulang punggung menunjukan baktinya berjualan tisu keliling dan sesekali menjadi buruh tani saat musim tanam atau panen.
Penghasilan keluarga kecil yang tak seberapa ini membuat bu Dede harus rela mengabaikan kondisinya semakin parah bertahun-tahun hingga lukanya berbelatung, seringkali bu dede mengalami pendarahan parah memaksanya meminjam uang untuk ongkos berobat.
Kondisi bu Dede menggambarkan bahwa fasilitas kesehatan saja masih tak cukup untuk memberikan hak kesehatan, jika memiliki rezeki berlebih setelah sakitnya diobati bu Dede berharap anak satu-satunya bisa memiliki modal untuk membuka usahanya sendiri dimasa depan dengan harapan hasil usahanya bisa memenuhi setiap kebutuhannya.
#sahabatsapa, iringi juga pejuang kami. Jangan biarkan masa tua dan masa depan keluarga terus terpuruk. Yuk dukung program ini dengan cara:
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran
5. Dapatkan laporan melalui email
Tak hanya berdonasi secara materi, #sahabatsapajuga bisa membagikan halaman galang dana ini agar lebih banyak lagi tangan-tangan malaikat mengiringi perjuangan mereka.