"Nak, Abah cari rongsok dulu ya. Di rumah yang tenang, nanti kalo abah dapet hasil banyak pulangnya kita makan bareng ya." Kalimat sederhana itu hampir setiap hari diucapkan Abah Sarkim kepada putrinya, Wati. Di usia 75 tahun, Abah masih harus keluar rumah mencari rongsok demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Sementara itu, Wati hanya bisa terbaring di rumah menunggu kepulangan sang ayah. Sejak lahir, Wati mengalami kelumpuhan yang membuatnya tak mampu berjalan seperti orang lain. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi, ia harus mengesot dengan tubuhnya sendiri.

Setelah sang istri meninggal dunia, Abah Sarkim menjadi satu-satunya orang yang merawat Wati. Selama puluhan tahun, Abah mencurahkan hidupnya untuk sang anak. Setiap pagi hingga siang hari, Abah merawat Wati, membantu kebutuhan sehari-harinya, dan memastikan putrinya tetap bisa menjalani hari dengan nyaman. Barulah menjelang sore, Abah keluar mencari rongsok untuk mendapatkan sedikit penghasilan. Namun perjuangan Abah tidaklah mudah. Dalam satu minggu, hasil rongsok yang berhasil dikumpulkan sering kali hanya bernilai sekitar Rp15.000. Penghasilan yang sangat kecil itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Saat Abah pergi bekerja, Wati hanya ditemani suara radio agar tidak merasa terlalu sepi. Sebab ketika kesedihan datang dan kondisi tubuhnya melemah, epilepsi yang dideritanya bisa kambuh sewaktu-waktu.

Dulu, Abah Sarkim sempat bekerja di perantauan dan berjualan bakso selama 15 tahun. Namun setelah sang istri meninggal karena penyakit jantung, beliau rela meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke kampung demi merawat Wati yang tak punya siapa-siapa lagi. Kini, kondisi Abah sendiri tak lagi sekuat dulu. Selain usianya yang semakin renta, Abah juga harus menahan sakit lambung yang sering kambuh. Meski demikian, Abah tetap bertahan. Ia belum bisa berhenti, karena tidak ada orang lain yang akan merawat Wati jika dirinya menyerah. Di tengah segala keterbatasan, Abah hanya ingin anaknya mendapatkan pengobatan yang layak dan kehidupan yang lebih baik.

Sahabat baik, mari bersama-sama membantu perjuangan Abah Sarkim dan Wati. Bantuan yang diberikan akan digunakan untuk mendukung kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pengobatan Wati, serta membantu mewujudkan harapan Abah untuk memiliki usaha yang lebih layak agar tidak perlu lagi mencari rongsok di usia senjanya. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi mereka. Mari hadirkan harapan untuk Abah Sarkim dan Wati hari ini.