Mak Inoh berusia 77 tahun. Sejak suaminya meninggal dunia akibat sakit komplikasi, hidup mengajarkannya satu hal: bertahan dengan kekuatan sendiri.
Sejak dulu, Mak Inoh sudah terbiasa berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya, tanpa banyak mengeluh.
Sepanjang hidupnya, Mak Inoh pernah menjadi buruh tani, penjual sayuran, hingga kini di masa tua ia menjajakan dagangan sederhana teman makan nasi berkeliling dari kampung ke kampung.
Setiap pagi hingga sore hari emak berkeliling. Lauk-lauk itu ia ambil dari tetangga untuk dijual kembali. Dari satu bungkusnya, Mak Inoh hanya mendapatkan keuntungan 500 rupiah. Tak jarang bahkan emak menjual
Setiap hari, dengan langkah yang kian ringkih, Mak Inoh tetap berjalan menyusuri jalan kampung. Bukan karena ingin kaya, tapi karena ingin tetap bisa makan dan hidup mandiri.

Kini, di usia senjanya, Mak Inoh masih berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia enggan membebani anak-anaknya. “Anak-anak juga punya kebutuhannya sendiri, kasian kalau harus ngasih emak,” ucapnya pelan. Di balik kata-kata sederhana itu, tersimpan ketegaran seorang ibu yang sepanjang hidupnya lebih memilih memberi daripada meminta. Hari ini, kita bisa membantu Mak Inoh menjalani hari-hari tuanya dengan lebih tenang. Setiap uluran tangan adalah penguat langkahnya, dan pengingat bahwa perjuangannya tidak sendirian. Mari bersama-sama ringankan beban Mak Inoh. Karena tak seharusnya seseorang berusia 77 tahun masih harus bertarung sendirian demi esok hari.