Diperbarui 20 October 2026, 06:00 WIB
Di saat kebanyakan orang masih tertidur lelap, Abah Wawan sudah harus memulai perjuangannya. Sejak pukul 05.00 subuh hingga 11.00 siang, ia menyusuri jalanan demi mengumpulkan paku-paku bekas. Tak ada sepatu atau langkah tegap; Abah berikhtiar dengan merayap di atas papan roda sederhana yang dirakit dari sisa mainan anaknya.
Kondisi fisik Abah berawal dari musibah kecelakaan tabrak lari saat ia sedang mencari rongsok. Pelaku melarikan diri, menyisakan kaki kiri Abah bengkok dan tak berfungsi normal. Karena tak ada biaya, Abah hanya mampu berobat satu kali ke pengobatan alternatif dengan kaki yang hanya dibungkus kardus. Akibatnya, kaki kanannya kini ikut melemah dan kepala sering terasa pusing jika dipaksakan berjalan menggunakan tongkat. Setiap 1 kg paku yang dikumpulkan Abah hanya dihargai Rp4.000. Dari keringatnya sepanjang pagi, penghasilannya hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari. Angka yang jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari pun keluarga Abah sudah terbiasa hanya makan dengan nasi polos tanpa lauk.
"Kebutuhan pokok seperti makan, Abah selalu usahakan dari hasil jual paku untuk beli beras. Kami sudah biasa kalau harus makan cuma sama nasi saja..." — Abah Wawan Tak jarang rasa pedih harus Abah tanggung di jalanan. Karena bergerak menggunakan roda yang sangat rendah, tubuhnya sering tergenang air saat banjir turun. Bahkan, tuduhan menyakitkan tak jarang ia terima. "Dianggap pengemis sudah jadi hal biasa buat Abah. Pernah suatu hari Abah diminta membuktikan kaki yang bengkok ini, karena dituduh cuma merekayasa keadaan demi minta belas kasihan..." — Abah Wawan Sebetulnya, kaki Abah memiliki harapan untuk lurus kembali melalui operasi, namun membutuhkan biaya hingga Rp60 juta—angka yang mustahil terjangkau olehnya. Meski begitu, fisik yang terbatas dan rasa sakit tak pernah menyurutkan langkah Abah. Anak pertamanya sudah terpaksa putus sekolah di usia 14 tahun. Kini, seluruh harapan dan sisa tenaganya ia pertaruhkan untuk anak keduanya yang berusia 8 tahun dan masih duduk di kelas 5 SD.
Demi membelikan perlengkapan sekolah anaknya, Abah bahkan memberanikan diri ikut arisan hingga kini masih memiliki tunggakan 10 kali bayar sebesar Rp100.000 per minggu. Abah tidak ingin kemiskinan memutus cita-cita anaknya. "Mencari rongsokan paku setiap hari ini semua demi anak Abah. Kebutuhan sekolahnya harus selalu jadi prioritas. Abah ndak mau nasib anak Abah sama seperti Abah..." — Abah Wawan Sedikit kepedulian dari Anda adalah modal hidup, biaya berobat, dan jaminan masa depan pendidikan bagi anak Abah Wawan.
Klik tombol "Donasi Sekarang"
Masukkan nominal donasi terbaik
Pilih metode pembayaran
Setiap bantuan yang diberikan akan menjadi harapan baru bagi Abah Wawan dan keluarganya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.