Amang Sudarman gak pernah menyangka hidupnya akan seberat ini. Saat anak-anak lain bisa bermain dan tumbuh dengan bahagia, Amang justru harus menanggung luka yang membekas seumur hidup.

Waktu usianya baru 4 tahun, Amang ikut beberapa pemuda kampung yang hendak berburu. Siapa sangka, sebuah kecelakaan tragis terjadi. Senapan angin yang dibawa salah satu pemuda tak sengaja meletus. Pelurunya menghantam mata Amang hingga nyaris menembus bagian belakang kepalanya.

Sejak hari itu, hidup Amang berubah. Meski berhasil selamat, kecelakaan tersebut meninggalkan kerusakan pada syaraf dan penglihatannya. Hingga sekarang, tubuh Amang sering tak bisa dikendalikan dengan normal. Tangannya kerap gemetar dan sulit bergerak sesuai keinginannya. Penglihatannya pun terus menurun.

Apalagi kedua orang tua Amang kini telah meninggal dunia. Amang harus menjalani semuanya sendirian. Di rumah sederhana peninggalan orang tuanya, Amang menghabiskan hari-hari dalam kesunyian. Saat sakit, ia merawat dirinya sendiri. Saat lapar, ia harus berusaha sendiri mencari uang agar bisa makan hari itu.

Karena kondisi fisiknya, Amang sulit diterima bekerja seperti pemuda lainnya. Namun ia tak pernah memilih menyerah. Kadang Amang membantu warga yang sedang punya hajatan. Menyiapkan bumbu, membakar sate, atau pekerjaan ringan lainnya yang masih sanggup ia lakukan. Upah yang diterima sering kali hanya sebungkus nasi atau uang seadanya.

Kalau tidak ada panggilan kerja, Amang berkeliling kampung menjajakan gorengan dan kerupuk milik tetangganya. Dengan langkah yang tak selalu stabil, Amang menyusuri jalan demi jalan berharap dagangannya habis terjual.
Tapi tak setiap hari dagangannya laku. Sering kali Amang pulang dengan wajah kecewa karena dagangan masih tersisa. Penghasilannya hanya sekitar Rp20.000 sehari, itu pun kalau semua dagangan habis. Uang sebanyak itu harus cukup untuk makan, kebutuhan sehari-hari, dan bertahan hidup seorang diri.

Bayangkan... Di usia yang seharusnya masih bisa mengejar cita-cita dan masa depan, Amang justru harus berjuang sendirian melawan keterbatasan yang ia alami sejak kecil. Mari hadirkan harapan untuk Amang. Sedikit bantuan yang kita berikan bisa menjadi alasan bagi Amang untuk tetap kuat menjalani hari-harinya. Bisa menjadi makanan di saat ia lapar, kebutuhan saat ia sakit, dan pengingat bahwa ia tidak benar-benar sendirian menghadapi semua ini.Bantu beliau dengan cara:
1. Klik Tombol Donasi Sekarang
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran (Go-Pay/ OVO/virtual account)
4. Dapatkan Laporan Via Email

Tak hanya mendoakan dan berdonasi, kamu juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang membantu.