Saipul Hadi adalah seorang ayah sederhana dengan tiga anak yang masih kecil. Di tengah keterbatasan dan rasa sakit yang luar biasa, ia tetap memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Bertahun-tahun ia hidup dengan penyakit kaki gajah yang membuat salah satu kakinya membesar tidak normal. Namun kondisi itu tidak pernah membuatnya menyerah mencari nafkah.
Setiap hari Pak Saipul bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Dengan langkah tertatih dan kaki yang semakin membengkak, ia tetap memanggul barang-barang berat demi membawa pulang sedikit uang agar anak-anaknya bisa makan. Sementara sang istri hanyalah ibu rumah tangga biasa yang kadang membantu dengan menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Penghasilan mereka jauh dari cukup, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja sering kali kesulitan.
Enam tahun lalu, Pak Saipul sempat menjalani operasi dengan bantuan BPJS dan dukungan dari program sosial SCTV. Saat itu ia sempat memiliki harapan untuk sembuh dan hidup lebih baik. Namun setelah operasi, BPJS miliknya tidak lagi mampu dibayar. Bukan karena tidak mau, tetapi karena hidup mereka benar-benar serba kekurangan. Untuk membeli beras saja kadang harus berutang, apalagi membayar iuran BPJS setiap bulan.
Cobaan itu semakin berat sejak dua bulan terakhir. Saat sedang bekerja di pasar, Pak Saipul terjatuh. Sejak kejadian itu, kondisi kakinya semakin parah. Bengkak besar, luka terbuka, infeksi, bahkan mengeluarkan darah dan nanah. Rasa sakitnya tidak bisa lagi ditahan. Namun keluarga hanya bisa pasrah karena tidak memiliki biaya untuk membawa Pak Saipul berobat ke rumah sakit. Tunggakan BPJS yang sudah mencapai lebih dari tiga juta rupiah menjadi penghalang terbesar bagi mereka untuk mendapatkan pengobatan yang layak.
Selama ini pengobatan hanya dilakukan seadanya di bidan sekitar rumah. Obat-obatan yang diberikan hanya sekadar meredakan nyeri untuk sementara, bukan menyembuhkan luka yang terus membusuk. Setiap malam Pak Saipul hanya bisa meringis menahan sakit, sementara istrinya menangis kebingungan memikirkan bagaimana nasib suaminya dan masa depan ketiga anak mereka.
Saat kami datang menemui keluarga ini, suasana rumah begitu memilukan. Anak-anak kecilnya hanya bisa diam melihat ayah mereka terbaring kesakitan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menangis. Pak Saipul sendiri berkali-kali berkata ingin sembuh agar bisa kembali bekerja dan membesarkan anak-anaknya seperti ayah lain pada umumnya.

Pada hari Kamis, 30 April 2026, tim Sedekah Terbuka akhirnya berusaha membantu membawa Pak Saipul ke RS Kota Serang menggunakan jaminan SKTM. Namun harapan itu kembali pupus. Karena keterbatasan alat medis dan tenaga dokter, pihak rumah sakit belum bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Pak Saipul hanya mendapat pembersihan luka dan obat penghilang rasa sakit. Minggu, 3 Mei 2026, Pak Saipul diperbolehkan pulang dengan kondisi yang masih sama. Kakinya hanya diperban dan dibekali beberapa obat. Tetapi dua hari setelahnya, tepat Selasa, 5 Mei 2026, luka di kakinya kembali membengkak. Darah dan nanah terus keluar tanpa henti. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, sementara keluarga semakin tidak tahu harus meminta pertolongan ke mana lagi. Kini Pak Saipul hanya bisa berharap ada hati baik yang tergerak untuk membantu pengobatannya. Ia tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin sembuh… agar bisa kembali bekerja, menghidupi istri dan ketiga anak kecilnya yang setiap hari takut kehilangan ayah mereka.
