Di sebuah rumah sederhana, Pak Dadan (53th) bersiap setiap pagi. Meski dunianya gelap sejak lahir karena tunanetra, semangatnya tak pernah padam. Di sampingnya, ada Mak Erat (93th), sang ibu yang setia menjadi "mata" penuntun langkahnya berjualan kopi keliling.
Penghasilan jualan kopi tak menentu. Seringkali, mereka harus pulang dengan tangan hampa. Jika sudah begitu, hanya nasi dengan taburan garam yang menjadi pengganjal lapar. Bahkan, Pak Dadan terpaksa berhutang ke warung tetangga hanya untuk sekadar menyambung nyawa.
Di usia hampir seabad, Mak Erat diderita sakit pinggang dan perih di ulu hati. Pendengarannya pun sudah mulai hilang. Namun, karena keterbatasan biaya, Mak hanya bisa merintih menahan sakit saat malam tiba. Tak ada biaya untuk dokter, apalagi membeli alat bantu pendengaran.
Dahulu mereka punya warung, tapi bangkrut karena modal yang habis. Kini, Pak Dadan bermimpi bisa membuka warung itu kembali. Ia ingin ibunya yang sudah renta bisa beristirahat di rumah, tanpa harus berjalan berkilo-meter menuntunnya jualan di bawah terik dan hujan.
Sahabat, mari jadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mereka.
Melalui program Semua Berhak Dirayakan, Sobat Berdampak dapat terlibat dalam memberikan kemudahan dan kenyamanan sebagai bentuk perayaan bagi saudara kita yang membutuhkan. Nantinya kebaikan yang Sobat Berdampak berikan melalui program ini akan menjadi Paket Hampers, Buka Bersama, dan Paket Sembako. Karena sejatinya, setiap manusia perlu tersenyum lepas, nyaman, dan dirayakan.