Abah Dedi (70) hidup sebatang kara, berjuang tiap hari meski tubuhnya semakin lemah. Istrinya meninggal lima tahun lalu, dan anaknya, yang menderita epilepsi, harus meninggalkannya. Abah pernah menganggap anak angkatnya sebagai pelipur lara, namun anak angkat itu malah menyimpan pakaian Abah di gudang dan tak pernah menanyakan kabarnya. Hati Abah remuk, ia memilih merantau sendiri, meninggalkan tempat yang dulu dianggap rumah.
Dulu, Abah berjualan kopi menggunakan motor, namun ia dihipnotis seorang penipu yang mengganti motornya dengan tas kosong. Tanpa motor, Abah terpaksa berjualan dengan sepeda pinjaman, tidur di masjid dan pom bensin. Beruntung, ada orang baik hati yang menawarkannya tempat tinggal di kontrakan.
Di kontrakan yang kumuh itu, Abah tidur hanya dengan karpet tipis dan bekas gorden sebagai selimut. Fisiknya yang rapuh, ditambah batuk yang tak kunjung reda, membuat hidupnya semakin sulit. Ia hanya makan sekali sehari, saat maghrib, karena tak ada uang lebih. Dengan mata yang rabun, ia kesulitan mengayuh sepedanya dan sering hampir jatuh. Namun, Abah tetap berusaha bertahan, tak ingin mengemis pada siapa pun.
Di usianya yang semakin renta, Abah hanya ingin memiliki motor lagi agar bisa berjualan keliling dan sedikit mengurangi penderitaannya. Namun, harapan itu semakin jauh dari jangkauan. Mari bersama-sama memberikan sedikit rezeki kita, agar Abah bisa merasakan sedikit kebahagiaan di sisa hidupnya yang penuh derita.
Sobat yuk kita selamtkan hidup abah agar bisa hidup lebih layak di masa tuanya, melalui:
1. Klik Tombol “DONASI SEKARANG”;
2. Masukkan nominal donasinya;
3. Pilih bank (GO-PAY/BNI/BNI Syari’ah/Mandiri/BCA/BRI/Kartu Kredit);
4. Dapatkan laporan via e-mail;