Diperbarui 03 November 2026, 03:00 WIB
Di usia yang semakin senja, Ibu Iis masih harus berjalan jauh sambil memikul masakan demi mencari nafkah. Padahal, perutnya sering terasa perih karena tak sempat sarapan. Namun, ia tetap memaksakan diri berjualan karena jika berhenti, tak ada uang untuk membeli beras.
Cobaan demi cobaan telah merenggut kebahagiaan Ibu Iis. Saat suaminya sakit jantung dan lambung hingga berat badannya turun 25 kg, Ibu Iis terpaksa berjuang sendirian. Namun, ketika ia ikut jatuh sakit, penghasilannya terhenti. Tunggakan kontrakan selama setahun membuat mereka terusir dan terpaksa menumpang di rumah mertua.
Belum cukup sampai di situ, Ibu Iis juga kehilangan satu-satunya lapak jualan yang menjadi sumber penghasilannya. Kesedihan semakin dalam ketika anaknya yang baru dua bulan bekerja di Kalimantan meninggal dunia karena sakit.
Kini, pembeli semakin sepi, sementara banyak pelanggan berutang dan Ibu Iis harus menombok modal masakan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bahkan terpaksa berutang demi membeli beras.
Di tengah tubuh yang semakin lemah dan usia yang terus bertambah, Ibu Iis hanya berharap bisa memiliki usaha kecil berjualan es teh agar dapat memperoleh penghasilan yang lebih pasti.
Ibu Iis tak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin tetap bisa mencari nafkah tanpa harus terus berutang dan mencemaskan hari esok.**
Mari bantu Ibu Iis mewujudkan harapan kecilnya agar ia bisa kembali berjualan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menjalani hari tua dengan lebih layak.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung