Nenek Onih (84) seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Namun kenyataannya, setiap pagi sebelum matahari terbit, beliau sudah berjalan kaki berkeliling kampung menjajakan gorengan demi bisa makan hari itu. Di usianya yang renta, Nenek hidup sebatang kara tanpa keluarga yang menemani maupun membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Gorengan yang dijual pun bukan milik Nenek sendiri. Karena tidak memiliki modal, beliau hanya mengambil titipan dari orang lain sehingga keuntungan yang didapat sangat sedikit, sekitar Rp15.000–Rp20.000 per hari. Bahkan ketika dagangan tidak laku, Nenek harus pulang tanpa membawa uang sepeser pun dan menahan lapar seorang diri.
Di balik langkahnya yang pelan, Nenek Onih harus menahan nyeri hebat di kaki dan lutut akibat penyakit persendian yang dideritanya. Meski tubuhnya sering kesakitan, beliau tetap memaksakan diri berjalan berkilo-kilometer karena jika tidak berjualan, tidak ada uang untuk membeli makan ataupun obat.
Yang paling ditakuti Nenek adalah saat sakit hingga tidak mampu keluar rumah. Tidak ada keluarga yang merawat, tidak ada penghasilan yang masuk, dan tidak ada makanan yang bisa disantap. Harapan sederhana Nenek hanyalah memiliki modal usaha sendiri agar bisa berjualan dari rumah tanpa harus menyiksa tubuhnya setiap hari.
Melalui penggalangan dana ini, bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk menyediakan modal usaha mandiri, memenuhi kebutuhan pokok harian, serta membantu kebutuhan pengobatan Nenek Onih. Mari bersama menjadi harapan bagi Nenek agar masa tuanya tidak lagi dipenuhi rasa lapar, kesepian, dan perjuangan yang tak berkesudahan.