Benjolan Terus Tumbuh di Tubuhnya, Pak Karminto Tak Mampu Berobat dan Masih Harus Merawat Ibunya

Benjolan Terus Tumbuh di Tubuhnya, Pak Karminto Tak Mampu Berobat dan Masih Harus Merawat Ibunya

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
30 hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 07 September 2026 15:19 WIB

Penggalang Dana

Arah Cahaya

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

07 September 2026

Puluhan Tahun Hidup dengan Ratusan Benjolan, Pak Karminto Harus Bertahan di Tengah Penolakan "Yang paling sakit bukan cuma benjolan di tubuh ini. Tapi ketika orang-orang menjauh karena mengira penyakit saya menular." Puluhan tahun Pak Karminto hidup dengan ratusan benjolan yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Ia didiagnosis mengalami Neurofibroma, tumor pada jaringan saraf yang perlahan mengubah penampilan sekaligus membuat hidupnya semakin berat. Benjolan-benjolan itu mulai muncul sejak Pak Karminto masih remaja. Ia pernah menjalani pengobatan dengan harapan bisa sembuh dan hidup seperti orang lain. Namun setelah pengobatan, benjolan kembali tumbuh. Jumlahnya semakin banyak dan menyebar ke berbagai bagian tubuhnya. Kondisi tersebut membuat Pak Karminto sering minder untuk bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. "Mereka bilang saya seram. Katanya penyakit saya bisa menular. Banyak yang lihat saya dengan jijik. Tidak ada yang mau mempekerjakan saya. Padahal saya harus bertahan hidup." Tak hanya harus menghadapi tatapan dan penolakan, setiap hari Pak Karminto juga menahan rasa perih dan gatal dari benjolan-benjolan di tubuhnya. Ia bahkan berusaha menahan diri agar tidak menggaruk terlalu keras karena khawatir benjolan pecah dan menyebabkan luka serta infeksi. Sulitnya mendapat pekerjaan membuat Pak Karminto hanya bisa bekerja serabutan sebagai kuli batu jika ada orang yang mau mempekerjakannya. Penghasilannya hanya sekitar Rp50.000–Rp60.000 per hari, itu pun tidak setiap hari ia mendapatkan pekerjaan. Namun di tengah hidup yang serba kekurangan, Pak Karminto masih memikirkan satu orang yang paling ia sayangi: ibunya yang sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Mereka hidup berdua di rumah sederhana. Dengan penghasilan yang tidak menentu, Pak Karminto harus membagi uang yang sedikit untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus merawat sang ibu. "Bisa makan saja sudah syukur, soale ibu juga sudah tua, sering sakit-sakitan. Kalau saya berobat, uangnya dari mana?" ucap Pak Karminto lirih. Selama bertahun-tahun, Pak Karminto terbiasa menahan rasa sakit, menahan tatapan orang, dan menahan kesepian. Di saat tubuhnya terus berjuang melawan penyakit, ia tetap berusaha bekerja demi bisa menghidupi dirinya dan merawat ibunya. Kini, Pak Karminto membutuhkan uluran tangan kita. Mari bantu meringankan beban Pak Karminto agar ia tidak harus terus menghadapi semuanya seorang diri.


Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik