Lima tahun lalu, hidup Abah Aep masih biasa saja. Ia masih bisa bekerja, meski serba terbatas sampai suatu hari, sengatan tawon di mata kanannya mengubah segalanya. Awalnya hanya benjolan kecil tapi lama-lama membesar, mengeras, dan mulai merusak wajahnya.
Tanpa pengobatan, tumor itu terus berkembang. Kini hampir setengah wajah Abah Aep rusak, penuh luka, dan rasa sakit yang tak tertahankan. Setiap kambuh, tubuh Abah gemetar tapi ia memilih diam, menahan sakit sendiri agar istrinya tidak panik.
Di sampingnya, Mak Omasih tetap setia merawat. Ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu kadang hanya belasan ribu, bahkan sering tak dapat apa-apa. Saat tak ada kerja, ia berkeliling menjual hasil bumi orang lain.
Penghasilan itu jelas tak cukup. Untuk makan saja mereka sering kesulitan apalagi untuk biaya berobat.
Malam hari, Mak Omasih hanya bisa duduk di samping suaminya, menggenggam tangannya berharap rasa sakit itu berkurang, walau sedikit.
Mari ulurkan tangan dan bantuan untuk Abah Aep, sedikit dari kalian sangat bearti bagi kehidupan ia dan keluarganya. Bantu dengan cara:
Tak hanya mendoakan dan berdonasi, kamu juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang membantu.